SEKILAS TENTANG JACQUES DERRIDA

1 03 2008

A. RIWAYAT HIDUP

JACQUES DERRIDA lahir pada tahun 1930 di El Biar, AI Jir, dan datang ke Prancis untuk melaksanakan tugas militernya, sambil bekerja di Ecole Normale di Paris bersama Hegel, Jean Hyppolite. Dia menghabiskan waktu satu tahun di Harvard untuk menyelesaikan kesarjanaannya, dari tahun 1956-1957. Dari tahun 1960-1964, Derrida mengajar di Sorbonne, dan sejak tahun 1965, Derrida mengajar sejarah filsafat di Ecole Normale Superieure.Setiap tahun Derrida mengajar juga untuk beberapa waktu sebagai dosen tamu di Yale University, Amerika serikat. Mada masa muda, Derrida pernah menjadi anggota Partai komunis Prancis.Sejak tahun 1974 Derrida ikut aktif dalam kegiatan­kegiatan himpunan dosen filsafat yang memperjuangkan tempat yang wajar untuk filsafat pada taraf sekolah menengah. Kelompok ini (Kelompok Penelitian Tentang Pengajaran Filsafat) didirikan ketika dalam rangka rencana pembaharuan pendidikan peranan filsafat pada sekolah menengah mulai dipersoalkan.Pada tahun 1962, Derrida memenangkan hadiah Prix Cavilles atas karya perdananya, dengan menerbtkan terjemahan karangan Husserl 7 Asal-Usul Ilmu Ukur. 

B. DEKONSTRUKSI

Proses kritik dari dalam, Derrida menyebutnya dengan istilah dekonstruksi” atau pembongkaran”. Pembongkaran itu menampakkan aneka ragam aturan yang   sebelumnya tersembunyi untuk menentukan teks. Satu hal yang dapat ditampakkan melalui proses pembongkaran yang mendapat perhatian khusus dalam filsafat Derrida adalah “yang tak dipikirkan” dan “yang tak terpikir”.Metode dekonstruksi Jacques Derrida tentang “yang tak dipikirkan” dan “yang tak terpikir” inilah yang kemudian membuat Derrida untuk melakukan kritik terhadap pemikiran para penganut metafisika. “Yang tak dipikirkan” atau “mustahil dipikirkan”, menurut Derrida, hal itu merupakan hal yang belum dapat dipikirkan oleh para penganut metafisika (mungkin teks­teks tersebut dianggab suci, jadi tidak berani untuk menyentuhnya). Sedangkan “yang tak terpikir”, maksudnya adalah hal-hal yang bisa dipikirkan kembali dari pemikiran filosofis penganut metafisika.  

C. PEMIKIRAN FILOSOFIS 

Pemikiran Derrida ditimbulkan dari ada sebagai “kehadiran” yang ditimbulkan oleh pemikiran Barat. Menurut Derrida pemikiran tersebut adalah metafisika. Kerangka pemikiran metafisika tentang “ada” sebagai “kehadiran” adalah hadir bukan berarti harus ada. Kehadiran yang timbul dari gejala atau tanda adalah sarana untuk menghadirkan yang ada. Dengan demikian, – dalam pandangan metafisika tanda yang akhirnya hanya sekedar pengganti sementara menunda hadirnya objek itu sendiri.Jacques Derrida melakukan dekonstruksi terhadap   pandangan bahwa tanda adalah sarana untuk menghadirkan. Menurut pandangan Derrida, bahwa kehadiran harus dimengerti  berdasarkan tanda. Dengan kata lain, tanda tidak bisa sebagai sarana untuk menghadirkan, kecuali bahwa tanda benar-benar mempunyai nilai bobot. Derrida menyebutkan tanda sebagai bekas, seandainya bekas (tanda) dihapus maka kehadiran akan ikut terhapus.Tanda oleh Derrida disebut “teks” atau “tenunan” diambil dari bahasa latin “texere”, arti menenun. Derrida menolak anggaban bahwa makna melebihi teks dan hadir bagi pemikiran terlepas dari teks. Artinya, terjemahan disamakan dengan menanggalkan pakaian dari makna tersebar dan mengenakan pakaian baru. Padahal, (menurut Derrida) menerjemahkan dari satu bahasa ke dalam bahasa yang lain tidak boleh dibayangkan sebagai melepaskan makna yang terbungkus dalam teks tersebut.Logologi didengung-dengungkan oleh filosofis barat, angkan logologi adalah ilmu tentang perkataan atau lisan. Menurut pandangan filosofis Barat bahwa bahasa lisan sebagai pemikiran sedangkan bahasa tulis merupakan tambahan bagi bahasa lisan. Bahasa lisan adalah pemikiran yang bersumber dari percakapan yang diadakan oleh jiwa atau hati nurani.Menurut Derrida, logologi melupakan dan bahkan meremehkan bahasa tulisan. Derrida mengadakan dekonstruksi atau pembongkaran terhadap logologi, dengan mengubah logologi menjadi gramatologi. Gramatologi berasal artinya “tanda dari tanda”, gramatologi gramma yang ar isebut juga ilmu tentang “tekstualitas.Kadang-kadang bahasa lisan membingungkan para pendengar. Kata-kata di dalam bahasa lisan di dalam pengucapannya sama tetapi di dalam pengartiannya berbeda. Dengan bahasa tulisan, “teks” (tanda) bersifat terbuka.Dengan perubahan (bahasa lisan ke dalam bahasa tulisan) tersebut mempunyai pengaruh  sangat luas terhadap perkembangan pemikiran manusia.Tetapi, Derrida tidak menghancurkan atau destruksi terhadap bahasa lisan. Maksud Jaqcues Derrida ialah bahwa setiap bahasa (bahasa tulis maupun bahasa lisan) menurut kodratnya adalah tulisan dari pemikiran. 





TEORI KRITIKA SOSIAL MENURUT JURGEN HABERMAS

1 03 2008

1. Sejarah dan prawacana Jurgen Habermas

 Habermas belajar di bawah Ardono selama bebe­rapa tahun dan umumnya dikenal sebagai pewaris kon­temporer utama dari warisan Frankfurt. Walaupun ter­dapat tema-tema umum yang berbeda antara karyanya dengan karya dari para pendahulunya, namun, demikian dia mengambil hal itu dalam arah yang berbeda sama sekali. Kita membandingkan Lukaes dengan Ardono, Marcuse dan Horkheimer sebagai wakil-wakil pesimistik dan optimistik dari kerangka kerja teoritis yang se­cara mendasar sama; apa yang menyatukan mereka adalah minat yang sangat besar terhadap kebebasan manusia, betapapun tipisnya kemungkinan dari adanya kebebasan itu dalam dunia riil.Begitu juga Habermas juga mengekspresikan per­hatian yang sama tetapi nampaknya dia kurang sedemi­kian melibatkan diri. Dia keluar dari sayap optimisme ke pesimisme dan sebagai gantinya dia memberikan per­hatian yang besar terhadap analisa mengenai struktur-struktur dan tindakan sosial di bandingkan para penulis yang terdahulu. Habermas bukanlah seorang yang bersifat radikal dalam seumur hidupnya, nampaknya setelah pertumbuhan dalam Nazi. Jerman, dia hanya mu­lai bergerak ke kiri di bawah pengaruh dari Ardono. [1]  Untuk sementara pada pertengahan tahun 1960-an, dia adalah seorang pendukung yang kuat dari mahasiswa sayap kiri, tetapi kemudian menjauhkan dirinya dari mereka, sambil mengatakan bahwa mereka hanya membangun bentuk-bentuk dominasi baru. Karyanya sering diambil oleh golongan kiri, tetapi hal itu termasuk suatu per­pindahan yang radikal dari bentuk-bentuk Marxisme. Kami akan mencoba membuat out line dari ciri-ciri utamanya dengan memakai suatu pertentangan antara dia dan karyanya dari anggota-anggota madzhab Frankfurt dengan memperhatikan pandangannya mengenai teori. Kemu­dian pada kritikannya terhadap Marxisme dan akhirnya pada pokok analisanya mengenai masyarakat kapitalis modern,

2. Sosok pemikiran Jurgen Habermas

Jurgen Habermas adalah tokoh terkemuka dewasa ini, sebuah aliran filsafat yang sejak 60 tahun sema­kin berpengaruh dalam dunia filsafat maupun ilmu-ilmu sosial, yaitu filsafat kritis. Filsafat kritis berdiri dalam tradisi besar pemikirannya yang mengambil inspi­rasinya dalam karya intelektual Karl Marx. Ciri khas filsafat kritis adalah ia selalu,berkaitan erat dengan kritik terhadap hubungan-hubungan sosial yang nyata, Pemikiran kritis merefleksikan masyarakat serta dirinya sendiri dalam konteks dialektika struktur-struktur penindasan dan emansipasi. Pemikiran kritis merasa  diri bertanggungjawab terhadap keadaan sosial yang nyata. Dengan demikian berpikir kritis berarti bahwa di suatu pihak perdebatan tetap berlangsung ditingkat filosofis-teoritis, jadi filsafat kritis tidak mau menjadi ideologi perjuangan. Tetapi di lain pihak filsafat kritis berdasarkan anggapan-anggapan yang mana masuk sampai ke dalam inti metodologinya bahwa justru sebagai kegiatan teoritis yang tetap tinggal dalam medium pikiran.[3] Jurgen Haberman sesudah menjadi profesor di Frankfurt sebagai pengganti Adorno, mengalami begitu banyak gangguan dan demontrasi dari pihak mahasiswa sehingga ia pada tahun 1971, hanya enam tahun kemudi­an berhenti sebagai profesor dan menjadi peneliti pa­da institute Max Plank di Stranberg (sejak tahun 1983 dalam alam akademis yang lain sama sekali, dimana zaman “Kiri Baru” sudah terlupa ia kembali sebagai profesor di Universitas Frankfurt). 

3. Teori Epistemologi kaitannya Karl Marx

Filsafat ilmu pengetahuan social melibatkan  dirinya dalam dua isu: pertama; hakekat dunia, apa hakekat dari hal yang ada (di dunia), ini dan adakah perbedaan dari keberadaannya. Kedua; filsafat ilmu tertuju pada hakekat suatu penjelasan, mengenai cara mengetahui pengetahuan sebagai pengetahuan Marx me­ngatakan semua ilmu pengetahuan akan menjadi berlebihan. kalau penampilan luar dan esensinya, persis sama. Tidak satupun penampilan luar dari meja saya yang memberitahukan kepada saya, bahwa ia terbuat dari jutaan, molekul yang bergabung satu sama lain. Menurut Marx terdapat dua pengertian yang jelas di mana suatu pro­ses sebab akibat berlangsung dalam masyarakat.Pertama, seperangkat hubungan-hubungan sosial yang pokok, struktur sosial, bisa di lihat sebagai pe­nyebab hubungan-hubungan sosial tertentu di permukaan misalnya seorang Marxis, bisa berdalih bahwa argumen‑argumen politik yang di laporkan dalam berita berita setiap hari di sebabkan oleh hubun.gan-hubungan ekonomi yang penting, kendati argumen-argumen itu tidak me­nyangkut ekonomi. Kedua, suatu struktur pokok yang se­demikian rupa, sehingga ia memiliki hukum-hukum tertentu atau kecenderungan-kecenderungan perkembangan tertentu; misalnya mungkin ada mekanisme tertentu didalam hubungan-hubungan pokok masyarakat kapitalis yang mem­bawa akibat krisis-krisis ekonomi yang berkelanjutan atau menyebabkan meningkatnya campur tangan negara da­lam kegiatan ekonomi. [4]Pengetahuan menurut Marx yaitu pekerjaan dan akal budi dengan manusia alami. Dengan demikian bagi Marx pun tak ada artinya melawankan subyek dan objek. Manusia dan dunia, dua-duanya hanya mungkin dalam saling pengantaran. Manusia tidak mungkin tanpa alam dari padanya ia hidup dan yang dikerjakannya. Tetapi alam­pun sebagai mana manusia menghadapinya hanyalah alam, melaiui manusia. Ia adalah alam yang diberi bentuk oleh manusia. Baru pekerjaan manusia membuat alam seada sekarang, sebagaimana ia menjadi  obyek manusia. “Dengan demikian alam pada dirinya sendiri adalah sesuatu yang abstrak, yang harus kita pikirkan, akan tetapi kita bertemu alam selalu hanya dalam cakrawala proses sejarah universal pembentukan umat, manusia”.Oleh karena itu Marx menyatakan “bahwa kesatuan termashur manusia dengan alam dalam industri sejak du­lu selalu sudah terdapat dan dalam setiap tahap atau sejarah terdapat secara berlainan, tergantung dari tingkat perkembangan industri yang kurang atau lebih be­sar, seperti juga pergulatan manusia dengan alam, sampai keperkembangan alat-alat produktifnya di dasar yang sesuai”. Pertanyaan tentang bagaimana dunia da­pat dimengerti (,masalah epistemologis) di pecahkan, dengan manusia membuat dunia itu.

 4. Analisa Habermas tentang Kapitalis Modern

Habermas tentang kapitalisme modern kurang me­naruh perhatian yang besar terhadap yang telah dike­mukakan oleh para madzhab Frankfurt yang lebih awal. Hal itu dilihat pertama-tama sebagai suatu tahap da­lam perkembangan yang bersifat evolusioner – suatu tingkat yang mungkin berlangsung salah dan membawa benca­na, tetapi bagi Habermas bagaimanapun hal itu lebih merupakan suatu sistem sosial daripada suatu yang jahat. Seperti para pemikir yang lebih dahulu, dia menekankan dominasi teknologi dan nalar instrumental dan kits juga bisa lihat suatu pengalihan pandang4n kebelangan yang lebih nostaigik-pads periode kapital­isme awal.[6]Habermas melihat kapitalisme modern seperti yang dikarakterkan oleh dominasi negara atas ekonomi dan bidang-bidang lain dari kehidupan sosial. Bagi Habermas intervensi negara dan akibat pertumbuhan dari nalar instrumental telah menjangkau suatu titik berbahaya yang disebutnya sebagai suatu “utopia negatif” adalah mungkin. Rasionalitas progesif dan putusan-pu­tusan publik lebih menjangkau titik dimana organisasi sosial dan perbuatan putusan mungkin bisa di delegasikan kepada para penghitung mengeluarkannya dari arena perdebatan publik secara bersama-sama.Analisa mengenai kapitalisme awal serupa dengan analisanya Marx dengan krisis ekonomi sebagai hal yang paling penting. Bagaimanapun juga kapitalisme bisa di­lihat sebagai suatu kombinasi dari tebak-berapa-banyak subsistem-subsistem: ekonomi, politik dan sosial buda­ya dan tempat krisis yang berpindah dari satu ke yang lainnya, ketika sistem berkembang krisis ekonomi dan konflik yang di hasilkan antara pekerjaan dan model di lihat semata-mata sebagai krisis sistem. Pertumbuhan integrasi dan kekuasaan dari negara merupakan suatu respons dan suatu usaha yang berhasil, walaupun Habermas tidak menyatakan bahwa krisis-krisis ekonomi telah, menghilang; memang untuk sementara akan sulit untuk bersikap keras terhadap pernyataan separti ini.

5. Jurgen Habermas untuk menuju teori praktis

Teori kritis menurut Habermas di sebut dengan “teori dengan maksud praktis” berarti tindakan yang membebaskan model teori kritis dengan maksud praktis ditemukan Habermas. Dalam masalah teori-teori Habermas mempunyai beberapa kepentingan; kepentingan peng­etahuan dan kepentingan praktis ide itu bukanlah tidak serupa dengan mengatakan bahwa seorang mahasiswa mengembangkan suatu kepentingan” dengan maksud untuk mem­peroleh suatu tingkat dari tujuannya. Kepentingan yang dibicarakan Habermas ini, bagaimanapun juga dimiliki oleh kita semua dalam keanggotaan masyarakat manusia. Argumentasinya berakar di dalam karya Marx, dan kita  temukan kritikan utamanya tentang teori Marx.Kepentingan selanjutnya yaitu kepentingan prak­tis, yang pada gilirannya memunculkan ilmu pengetahuan Hermeneutik yang dengan caranya menginterpretasikan tindakan satu sama lain. Baik secara individu, sosial masyarakat maupun secara organisatoris secara kritis menurut Habermas.[8] Kepentingan praktis, kata Habermas memunculkan suatu kepentingan ketiga, “kepentingan emansipatoris“. Dia membangkitkan pengetahuan teoritis, untuk itu Ha­bermas mengambil psikoanalisa sebagai model untuk mengkaitkan antara kemampuan berfikir dan bertindak dengan kesa­daran sendiri. Maka, teori bagi Habermas merupakan suatu produk dan memenuhi maksud dari tindakan manusia. Se­cara esensial itu adalah alat untuk kebebasan manusia yang besar.

6. Rumusan strategi teori epistemoiogi

Penelitian terhadap hubungan antara ilmu peng­etahuan dan kepentingan menjadi salah satu usaha pokok Habermas. Penegasan kunci Habermas adalah bahwa tidak masuk akal kita bicara umum tentang kepentingan di be­lakang ilmu-ilmu sebagaimana dilakukan oleh Horkheimer, Adorno dan Marcuse. Habermas menegaskan (sesuai dengan pendekatan teori kritis sejak semula) bahwa ilmu pengetahuan malah hanya mungkin sebagai perwujudan ke­butuhan manusia, yang terungkap dalam suatu kepentingan fundamental.Pekerjaan merupakan “bentuk sintesis manusia dan alam yang di satu pihak mengikatkan objektivitas alam pada pekerjaan objektif subjek-subjek (manusia­manusia, FMS), tetapi di lain pihak tidak meniadakan independensi eksistensinya” (EI. 46). Kenyataan ini menunjukkan bahwa pekerjaan merupakan kategori episte mologi, istilah filsafat ilmu pengetahuan,

7. Dogma marxisme dan kaitannya dengan struktur sosial

Pada kenyataannya Habermas menyarankan bahwa tingkat ekonomi dari formasi sosial hanya dominan da­lam masyarakat kapitalis, barangkali hanya dalam kapitalisme awal, dia mengatakan setiap tipe masyarakat diatur oleh suatu kompleks institusional tertentu mungkin hal itu adalah institusi ekonomi untuk kapi­talisme awal, negara untuk kapitalisme akhir dan sis­tem kekerabatan dalam masyarakat suku terasing. Namun demikian institusi-institusi itu sendiri bisa dilihat sebagai penjelmaan-penjelmaan dari nilai-nilai budaya dan norma-norma yang dia lihat sebagai hal yang ber­kembang kearah tingkat-tingkat universalitas yang se­makin tinggi. Menurut Habermas bahwa institusi sosial ada tidak hanya untuk membantu dan mempertahankan produksi ekonomi tetapi juga menekan kembali keinginan yang mau membuat kehidupan sosial menjadi tidak mung­kin. Habermas memperhatikan evolusi masyarakat manusia dari jumlah sudut pandangan yang lain, biasanya menghasilkan klasifikasi yang tiga kali lipat.[11]Masyarakat dilihat sebagai hasil dari tindakan manusia pada giiirannya distruktur oleh norma-norma dan nilai-nilai. Dan terhadap perkembangan- perkembangan dari nilai-nilai dan norma-norma inilah kita harus perhatikan kalau kita mau memahami perubahan so­sial. Dasar-dasar untuk kritik sosial terletak dalam tujuan yang terhadapnya perkembangan sosial itu beru­bah, suatu rasional universal yang di dalamnya  setiap orang berpartisipasi secara sama. Suatu situasi dimana komunikasi tidak mengalami distorsi – suatu situasi per­cakapan yang ideal, yang ingin dibuatkan out line-nya oleh Habermas. Seperti dengan karya persons kita bera­khir dengan konsepsi kecil atau sederhana tentang tingkat-tingkat dari organisasi sosial, di luar yang di­berikan oleh pemberian prioritas kepada kebudayaan, tak ada pengaruh mengenai mekanisme sebab akibat dan lebih merupakan suatu pengklasifikasian umum daripada suatu sistem yang bersifat menjelaskan.

8. Pendekatan Historis menurut Habermas

Paradigma Teori Kritis masyarakat Ilklasik” di­tentukan oleh dua faham fundamental: gaya pemikiran his­toris dan gaya pemikiran materialis. Dengan pola berpikir historis dimaksud bahwa realitas sosial yang ada sekarang hanya dapat di pahami betul kalau dilihat sebagai hasil sebuah sejarah. Ilmu-ilmu positif menyelubungi secara idiologis fakta yang paling fundamental bahwa sejarah itu di buat oleh manusia sendiri (dalam bahasa Marx: manusia sebagai Gattungswesen atau makhluk jenis membuat sejarahnya sendiri), bahwa sejarah itu merupakan sejarah penindasan, bahwa penindasan itu justru ditutup-tutupi sehingga realitas sekarang tampak sebagai objektifitas yang wajar. Teori kritis bertugas  membuka selubung idiologis itu, jadi membuka penghisapan dan penindasan itu sebagai karya manusia dan dengan demikian membuka kemungkinan pembebasan.Maka Habermas bicara tentang “teori kritis sejarah dengan maksud praktis”. Dengan meminjam pola pendekatan psikoanalisa Sigmund Freud, ia mengharapkan agar ingatan kembali terhadap sejarah penderitaan dan penindasan (yang di tutup oleh “teori positif”) melepaskan kekuatan-kekuatan emansipatoris: menyadari diri sebagai kurban penindasan terselubung memberikan tekad untuk membebaskan diri dari sebuah situasi yang sekarang ti­dak lagi dipandang “objektif perlull, melainkan sebagai hasil proses sejarah.

 9. Kesimpulan           

Dari uraian tersebut di atas maka dapat disimpulkan beberapa hal, yakni :1.        Bahwa Jurgen Habermas adalah filosof dari Jerman yang menggunakan sifat kritis terhadap berbagai macam per­soalan termasuk teori tradisional. Tentu hal itu ti­dak sendirian, melainkan bersama temannya Adorno dan Horkheimer. Mereka semua itu berasal dari madzhab Frankfurt, namun dengan itu dia termasuk taruhannya, dan selalu dikritik orang-orang sekitarnya.2.         Habermas mempunyai kesadaran mengkritisi segala tin­dakan yang merugikan sosial, baik itu secara individu kelompok, masyarakat, ataupun organisasi.3.         Habermas menggunakan dua pendekatan dalam mengkritisi sesuatu; gaya pemikiran historis dan pemikiran materialis. Dengan demikian ia tidak selalu menggunakan ga­ya filsafat kritis. Karena dia melihat adanya perubahan dalam sosial. Namun perubahan tersebut tetap dalam kerangka sosial yang nyata.    

DAFTAR PUSTAKA

 Bertens, K. Filsafat Barat abad XX  (Inggris-Jerman). PT. Graha Media, Jakarta, 1983.Franz Magnis-Suseno, Filsafat sebagai Ilmu Kritis, Kani­sius, Yogyakarta, 1992.IAN CRAIB, Teori-teori Sosial Modern, CV. Rajawali, Jogjakarta, 1966 


[1] IAN CRAIB, Teori-teori Social Modern,Rajawali Pers, Jakarta, 1986, h1m. 308.

[2] Ibid, hlm. 309

[3] Franz Magnis-Suseno, Filsafat sebagai Ilmu Kritis, Kanisius, Yogyakarta, 1992, him.175.

[4] IAN CRAIB, Op. Cit. hlm. 33

[5] Dr. K. Kertens, Filsafat Barat Abad XX (Inggris-Jerman), PT. Graha Media, Jakarta, 1985, hlm.39

[6]  IAN CRAIB, Op. Cit, hlm.317

[7] Ibidj him. 320

[8] Ibid, him. 310

[9]  Ibid, hlm. 313

[10] Franz Magnis-Suseno, Op. Cit, him. 183

[11] IAN CRAIG, Op. Cit, him. 316

[12] Ibid, hlm. 317

[13] Franz Magnis-Suseno,   P. Cit, him. 182





PENGANTAR METODOLOGI

14 02 2008

1. Pendahuluan

Membicarakan metodologi sebagai sistem berpikir pada umumnya sebenarnya sama halnya membicarakan eksklusivitas potensi ruhaniah manusia sendiri. Oleh karena itu persoalan metodologi menjadi menarik dan memperoleh status signifikansinya justru terkait dengan prinsip-prinsip umum regularitas kognisi manusia. Ini berarti dalam konstitusi ruhani manusia terdapat norma-norma epistemis yang harus ditaati oleh manusia sendiri demi memenuhi kodratnya sebagai makhluk yang memegang amanah historis.Tentu tanpa kesukaran sebenarnya memasukkan pembahasan metodologis ke dalam peta kognisi manusia. Namun, ketika perkembangan kebudayaan dan peradaban manusia tidak lagi sekedar memproyeksikan kebutuhan epistemis yang alamiah, persoalan metodologis menjadi tuntutan baik normatif maupun historisitasnya. Sebab ketika evolusi kesadaran manusia (terutama dengan bentuk sain-teknologis)  telah mencapai status hegemonis baik terhadap alam dan lebih-lebih terhadap dirinya sendiri, persoalan metodologis menjadi wilayah advokasi (justice area) yang menentukan ketepatan dan kebenaran suatu pemikiran.Sesuai dengan beban makalah ini yang hanya mendeskripsikan persoalan elementer tentang metodologi, maka pembahasannya hanya akan diorientasikan kepada beberapa hal: Apa dan bagaimana metodologi itu?, apa relevansinya mempelajari metodologi?. 

2. Metodologi, Aspek-Aspek, Dan Urgensitasnya

Metodologi secara terminologis adalah ilmu yang mempelajari tentang metode-metode.[1] Sedangkan metode sendiri secara umum dapat diartikan sebagai cara bertindak menurut sistem aturan tertentu. Sehingga dengan menggunakan metode suatu tindakan atau kegiatan dapat terlaksana secara rasional dan terarah, serta hasilnya dapat tercapai secara optimal. Barangkali implementasi metode ini terdapat dalam prinsip manajemen klasik model POACE (Planning, Organizing, Actuating, Controlling, and Evaluation). Adapun secara teknis istilah metode sering dikaitkan dengan tindakan ilmiah yang berarti sistem aturan yang menentukan jalan untuk mencapai pengertian baru pada bidang ilmu pengetahuan tertentu. Dengan demikian metodologi dapat diartikan sebagai analisa dan penyusunan asas-asas dan jalan-jalan yang mengatur penelitian ilmiah pada umumnya serta pelaksanaanya dalam ilmu-ilmu khusus.Sebagai disiplin ilmu yang mandiri, metodologi dalam orientasi kerjanya mengadakan generalisasi dari fakta-fakta metodis yang terdapat dalam ilmu-ilmu khusus, serta menempatkan kekhususan metodis suatu ilmu dalam kekhasan obyek atau bidangnya. Dengan demikian kerangka kerja metodologi tidak dapat dilepaskan dari perkembangan dari metode-metode keilmuan yang ada.Kajian terhadap metode-metode dapat dilaksanakan pada tingkat operasionalitas metodis (aspek metodis) yang dipergunakan dalam ilmu-ilmu khusus. Dari kajian ini diperoleh manfaat dapat menentukan hubungan  di antara ilmu-ilmu yang ada, serta dapat menguji dan membersihkan metode-metode khusus, atau mungkin dapat menggolongkan secara tipikal ilmu-ilmu yang ada berdasarkan beberapa metode yang pokok.Kajian terhadap metode-metode ini dapat juga dilaksanakan pada tingkat konseptualitas (aspek logis). Pada tingkat ini metode-metode dipahami sebagai prosedur penalaran yang mendasari setiap konsep atau teori-teori yang dibangun oleh suatu disiplin ilmu tertentu. Manfaat dari kajian ini ialah mengetahui ketepatan logis setiap antar konsep dan teori, serta dapat menentukan penggunaan model logika yang dipergunakan dalam setiap ilmu yang ada. Dan kajian terhadap metode-metode ini juga dapat dilaksanakan pada tingkat kefilsafatannya (aspek filosofis). Pada tingkat ini metode-metode dipahami sebagai karakteristik dari hakekat pengetahuan manusia atau epistemologis. Dalam kajian ini dibahas kategori-kategori umum dari pengetahuan manusia, mengelompokkan ilmu-ilmu khusus ke dalam jenjang bidang-bidang pengetahuan manusia, menganalisis setiap istilah teknis dan prosedur kerja metode-metode serta perkembangan teori-teori ilmu pengetahuan yang ada. Dari kajian ini manfaat yang diperoleh adalah dapat menentukan karakteristik epistemologis sebagai dasar bagi operasionalisasi metode-metode yang ada. Misalnya, metode matematika yang menggunakan dalil-dalil tautologis sebagai aksioma-aksioma dasarnya pada dasarnya menggunakan pengetahuan yang diperoleh secara deduktif-a priori yang bersifat rasional. (pure rational). Sehingga penggunaan analisis untuk mengkaji metode ilmu matematika dapat didasarkan pada asumsi-asumsi kaum rasionalisme. Metode ilmu pengetahuan alam menggunakan dasar-dasar induksi- aposteriori dalam metodenya yang pada dasarnya menggunakan asumsi-asumsi pengetahuan yang bersifat empiristis. Sehingga penggunaan analisis terhadap metode ilmu ini dapat dilakukan melalui asumsi-asumsi yang dipergunakan oleh kaum empirisme. Demikian juga tentang ilmu keagamaan, misalnya yang menggunakan dasar-dasar pengetahuan deduktif-normatif  dapat dianalisis berdasarkan asumsi-asumsi fenomenologis.dan lain sebagainya. Dari aspek ini dapat juga diperoleh manfaat dapat mengetahui penggunaan istilah/terminologis dari metode yang dipergunakan dari ilmu-ilmu yang ada. Misalnya, dalil tautologis dari matematika, induktif naif, induktif komplit, observasi, paradigma, postulasi, verifikasi, falsifikasi dan lain sebagainya dari ilmu pengetahuan alam. Dan manfaat yang besar dari kajian ini adalah diketahuinya proses perkembangan dari teori-teori atau paradigma pengetahuan yang ada, baik dalam skala evolusi hingga revolusi. Mengetahui hubungan ilmu dan ideologi dalam segi penerapannya dan lain sebagainya.   Dengan tinjauan global tentang metodologi tersebut diatas tampaknya disiplin ini sangat perlu sekali dipelajari dan dihayati terutama dalam kaitannya dengan sikap kita sebagai bagian dari lingkup akademisi. Hal ini dapat dilacak dari tuntutan normatif metode-metode sendiri yang sangat terkait dengan operasionalitasnya. Artinya, metode dapat difungsikan secara optimal jika subyek peneliti memiliki sikap yang senantiasa skeptis, yakni selalu mempertanyakan dan mengkritisi setiap dimensi dari permasalahan (obyek); bersikap obyektif, yakni lebih mengedepankan kondisi obyek yang diteliti daripada pertimbangan-pertimbangan subyektifitas; bersikap rasional, yakni memiliki kesabaran intelektual dalam menyikapi setiap permasalahan meskipun terkait dengan situasi riil dirinya sendiri; bersikap lugas (transparan), yakni berani memberikan argumentasi atau pembuktian secara gamblang dan jelas; dan lain sebagainya. Keseluruhan sikap ini jika dihayati sebagai bagian dari integritas diri tentu saja akan melahirkan sikap yang profesional dibidangnya (yakni keilmuan yang tengah didalamnya). Sebab kadangkala obyek yang obtainable dan metode yang compatible terpaksa tidak memberikan kualitas hasil pengetahuan yang valid dan reliable lebih dikarenakan kualitas subyek peneliti yang tidak memiliki profesionalitas yang cukup adekuat. Disinilah urgensitas membangun integritas diri sebagai akademisi dituntut.  

3. Penutup

Demikian deskripsi singkat tentang pengantar metodologi yang barangkali dapat disimpulkan tentang beberapa hal, bahwa metodologi sebagai disiplin pengetahuan memang memiliki kedudukan yang sangat unik dan khas. Karena keunikan dan kekhasan inilah para ilmuwan sering berbeda pendapat dalam menentukan jenis pengetahuannya. Meskipun demikian secara garis besarnya metodologi sering dianggap sebagai ilmu tentang metode-metode, yakni dengan menekankan pada aspek operasionalnya, sedangkan yang lain menganggap sebagai pengetahuan logika dari ilmu-ilmu yang ada, yakni yang menekankan pada aspek konseptualnya. Dan ada yang menganggap bahwa metodologis adalah filsafat ilmu karena dalam kajiannya berusaha menggolongkan tipologi metode-metodenya berdasarkan karakterisitik pengetahuannya. Pemahaman terhadap metodologi ini pada gilirannya dapat merangsang timbulnya sikap yang profesional akademisi di bidangnya.      


[1] Disiplin ini diduga timbul untuk membedakan tipe metodis antara pengetahuan teologis, filsafat dan ilmu-ilmu positif. Sebagian ahli menyebutkan bahwa metodologi berkembang secara pesat pada abad ke 16 , yakni Masa Pencerahan (enlightmen era) paska renaissance yang dipelopori oleh Galileo Galilie (1564-1642) dan Francis Bacon (1561-1626).

  





BERKENALAN DENGAN HERMENEUTIK

10 02 2008

picture-014.jpg 

Sesuai dengan makna asal katanya “hermeneutik” berarti ”penafsiran” atau “interpretasi”. Hermeneutik pada akhirnya diartikan sebagai proses mengubah sesuatu atau situasi ketidak tahuan menjadi mengerti.  Secara agak khusus problem hermeneutik sebenarnya terkait dengan proses pemahaman, penafsiran dan penerjemahan atas sebuah pesan (lisan atau tulis) untuk selanjutnya disampaikan kepada masyarakat yang hidup dalam dunia yang berbeda. Dengan demikian tugas pokok hermeneutik ialah bagaimana menafsirkan sebuah teks klasik atau teks yang asing sama sekali menjadi milik (terpahami atau dimengerti) oleh kita yang hidup dizaman dan tempat serta suasana kultural yang berbeda. Istilah hermeneutik ini mulai dipergunakan baru dalam abad 17 dan ke 18 yakni untuk menunjukkan ajaran tentang aturan-aturan yang harus diikuti dalam mengerti dan menafsirkan dengan tepat suatu teks dari masa lampau, khususnya kitab suci dan teks-teks klasik (Yunani dan Romawi). Dalam filsafat dewasa ini, istilah “hermeneutik” dipakai dalam arti yang amat luas yang meliputi  hampir semua tema filosofis yang tradisional sejauh berkaitan dengan masalah “bahasa”.   Dengan demikian hermeneutik ini sangat erat kaitannya dengan pembahasan tentang cara “memahami” atau “mengerti” (verstehen) di satu sisi dengan “bahasa”  di sisi yang lain.
Hubungan antara “mengerti” di satu sisi dengan “bahasa” disisi yang lain memang sangat erat kaitannya. Bahasa adalah totalitas ekspresi perasaan dan pikiran yang dituangkan dalam simbol, gerak dan huruf namun untuk mengetahui secara persis maksud pembicaraan masih diperlukan penafsiran. Kita hidup tidak bisa keluar dari jaring-jaring bahasa dan setiap peristiwa komunikasi bahasa mesti memerlukan penafsiran. Bahasa adalah medium yang tanpa batas, yang membawa segala sesuatu didalamnya tidak hanya kebudayaan yang telah disampaikan kepada kita melalui bahasa, melainkan juga segala sesuatu tanpa ada kecualinya  –  sebab segala sesuatu itu sudah termuat dalam lapangan pemahaman. Dengan kata lain memahami bahasa memungkinkan kita untuk berpartisipasi pada pemakaian bahasa di masa-masa yang akan datang. Bahasa adalah perantara yang nyata bagi hubungan umat manusia. Tradisi dan kebudayaan kita segala warisan nenek moyang kita sebagai suatu bangsa, semua itu terungkap di dalam bahasa, baik yang terukir pada batu prasasti maupun yang ditulis pada daun lontar. Oleh karena sedemikian urgen keberadaan bahasa dalam kehidupan manusia, sehingga Gadamer mengabstraksikan keberadaan bahasa sampai pada tingkat ontologis bahwa bahasa merupakan modus operandi dari cara kita berada di dunia dan merupakan wujud yang seakan-akan merangkul seluruh konstitusi tentang dunia ini. Dengan demikian menurut wawasan Gadamer  –  dengan sekedar meminjam istilah kaum strukturalisme  –  bahwa semua realitas hidup manusia baik dirinya sendiri maupun hal-hal yang mengelilinginya adalah teks yang bisa dibaca dan ditafsirkan olehnya.
Mengingat tradisi hermeneutik ini pada awalnya sangat erat kaitannya dengan kajian filologi, yakni, ilmu yang membahas tentang asal-usul bahasa dan teks yang bertujuan untuk menafsirkan dan memahami teks tersebut, maka metode ini tampaknya sangat sesuai untuk tujuan pengkaijan  terhadap hal-hal yang berkaitan dengan fenomena kesejarahan (historiografi).    Oleh karena itu wajar jika dalam perkembangnnya lebih lanjut, yakni tepatnya pada abad ke 18, hermeneutik  mulai diaplikasikan ke dalam lapangan ilmu pengetahuan budaya (Geistewissenschaften). Dalam hal ini peranan Friederich Schleiermacher (1768-1834) sangat menentukan. Ia hendak merancang suatu metode ilmiah yang membahas fakta-fakta historis, sambil menyisihkan historisitas sang sejarahwan.  Untuk memahami  fakta-fakta histotisitas tersebut, maka diperlukan metode hermeneutis. Hanya saja Schleiermacher  segera membedakan antara hermeneutik sebagai ilmu atau seni memahami dengan hermeneutik sebagai studi tentang memahami itu sendiri.   Dengan kata lain, Schleiermacher masih membedakan antara hermeneutik sebagai metode ilmiah dan sebagai kajian filosofis.  
Adapun untuk mengerti atau memahami  suatu teks dari masa lampau, menurutnya kita harus keluar dari jaman dimana kita hidup sekarang, merekonstruksi jaman si pengarang dan menampilkan kembali keadaan dimana pengarang berada pada saat ia menulis teks. Dengan demikian proses pemahaman menuntut pembaca untuk mampu menempatkan diri pada posisi kehidupan, pemikiran dan perasaan dari sang pengarang agar memperpendek jarak antara dunia pembaca dan  dunia pengarangnya.   Ia menganggap bahwa hermeneutik sebagai studi tentang memahami.
Sementara Wilhelm Dilthey (1833-1911), meneruskan dan meneguhkan hermeneutik Schleiemacher. Dilthey menaruh perhatian pada metode hermeneutik  ketika ia  mencoba memecahkan persoalan tentang bagaimana membuat segala pengetahuan tentang individu atau pengetahuan tentang singularitas eksistensi manusia menjadi ilmiah.   Dengan kata lain, hermeneutik bagi Wilhelm Dilthey adalah suatu metode ilmiah yang dianggap paling sesuai untuk kajian-kajian ilmu kemanusiaan. Pendapat ini rupanya muncul ketika ia menjumpai sejumlah fenomena tentang eksistensi manusia, dimana ia dikejutkan oleh banyak variabel yang relatif  tidak dapat digeneralisir begitu saja. Sistem individual pada dasarnya merupakan produk dari sistem eksternal yang telah menstruktur kondisi eksistensi  manusia. Jadi, hanya pengetahuan tentang aspek individual yang terstruktur oleh sistem eksternal sajalah yang akan mampu meraih interpretasi  obyektif  tentang situasi historis setiap individu.   Dengan kata lain yang ingin dicari oleh Dilthey adalah pemahaman dan interpretasi atas kegiatan-kegiatan individu yang dengan sendirinya tersituasikan dalam sistem-sistem eksternal. Individu merupakan produk dari lingkungan eksternalnya seperti, sejarah, keluarga dan peraturan-peraturan kemasyarakatannya. Kenyataan inilah yang kemudian membawanya kepada pemisahan yang serius antara lapangan dan metode Naturwissenschaften (ilmu pengetahuan alam) dan Geistewissenschaften (ilmu pengetahuan tentang bhatin manusia). Dilthey, menganggap perbedaan itu sangat penting mengingat pada kenyataannya kedua jenis ilmu pengetahuan itu mempergunakan metode atau metodologi pembahasan yang berbeda satu dengan lainnya. Ilmu-Ilmu pengetahuan tentang alam fisik mempergunakan metode ilmiah yang hasil penemuannya dapat dibuktikan dengan menggunakan metode yang ketat. Di sisi lain, yang disebut ilmu-ilmu pengetahuan  tentang hidup tidak dapat diterapi dengan metode-metode ilmiah seperti pada ilmu-ilmu alam dan eksakta sebab ilmu-ilmu ini berhubungan dengan hidup manusia.   “Hidup” penuh dengan  makna. Untuk dapat memahami orang lain dan ungkapan-ungkapan hidupnya, maka pemahaman terhadap diri sendiri adalah mutlak. Pemahaman tentang Geistewissenschaften  (ilmu pengetahuan tentang hidup) tergantung pada pengalaman-pengalaman batin kita, yaitu pengalaman yang tidak dapat dijangkau oleh metode ilmiah. Dengan demikian,  menurut Dilthey perlu dibedakan dua kecenderungan metodis, yakni metode yang berorientasi pada upaya “menjelaskan” (erklaren) dan metode untuk  “mengerti” (verstehen).
Sementara bagi Hans-George Gadamer, hermeneutik bukanlah sebuah metode sekedar alat untuk “memahami” sesuatu (teks) tetapi hermeneutik sendiri adalah pemahaman yang oleh karenanya ia merupakan fakta ontologis. Dengan demikian , tampaknya yang ingin ditekankan oleh Gadamer adalah pemahaman yang mengarah pada tingkat ontologis, bukan metodologis. Bagi Gadamer,”memahami” atau “mengerti” mempunyai struktur lingkaran. Supaya orang mengerti sudah harus ada prapengertian. Untuk mencapai pengertian satu-satunya cara ialah bertolak dari pengertian. Misalnya, untuk mengerti suatu teks, sebelumnya sudah mesti ada prapengertian tertentu tentang apa yang dibicarakan dalam teks itu, kalau tidak maka sekali-kali tidak pernah akan mungkin memperoleh pengertian tentang hal tersebut.  Tetapi dilain pihak dengan membaca teks itu prapengertian terwujud menjadi pengertian yang sungguh-sungguh. Proses inilah yang dinamakannya sebagai “lingkaran hermeneutis”. Lingkaran ini menurutnya sudah terdapat pada taraf yang paling fundamental . Lingkaran ini menandai eksistensi kita sendiri. 
Sedangkan , Jurgen Habermas meskipun tidak secara eksplisit menggunakan gagasan hermeneutik namun dalam beberapa tulisannya ia menyinggung permasalah yang berkaitan dengan masalah hermeneutik. Hal ini terutama terlihat dari karyanya yang berjudul “Knowledge and Human Interest”,  yang didalamnya ia banyak menyinggung masalah penjelasan dan pemahaman. Menurutnya, penjelasan menuntut penerapan proposisi teoritis terhadap fakta yang terbentuk secara bebas melalui pengamatan sistematis. Sedangkan pemahaman adalah suatu kegiatan dimana pengalaman dan pengertian teoritis berpadu menjadi satu.   Dalam hal ini ia ingin menegaskan bahwa penjelasan haruslah berupa penerapan secara obyektif sesuatu hukum atau teori terhadap fakta, sedangkan pemahaman menjadi bagian subyektifnya. Sebab pemahaman melibatkan juga pengalaman penafsir. Namun yang menarik dari konsep Habermas adalah dibedakannya pemahaman pada umumnya dengan pemahaman hermeneutik. Pemahaman hermeneutik tidak menganalisis struktur sebagaimana pemahaman pada umumnya, tetapi pemahaman tentang makna yang mampu mengartikan hubungan simbol-simbol sebagai hubungan antar fakta.
Adapun Paul  Ricoeur  menyatakan bahwa hermeneutik adalah teori pengoperasian pemahaman dalam hubungannya dengan interpretasi terhadap teks.  Dengan demikian, hermeneutik dalam pandangan Ricoeur bertujuan menghilangkan misteri yang terdapat dalam sebuah simbol dengan cara membuka selubung daya-daya (makna) yang belum diketahui dan tersembunyi di dalam simbol-simbol  tersebut. 
Seperti halnya Gadamer, Jacques Derrida pun meski  tidak secara eksplisit menampilkan gagasan hermeneutik dalam konsep-konsepnya, namun dalam beberapa hal ia menyinggung persoalan hermeneutik. Gagasan hermeneutik terutama disinggung ketika ia mempersoalkan masalah pemahaman tentang makna. Menurutnya, untuk menemukan makna yang tersembunyi orang harus membuka selubungnya melihat isi  secara terpisah, membuang semua hubungan yang sudah ada antara kata dan konsep. Ini merupakan cara untuk menghapus prasangka. Sumber utama timbulnya kesalahpahaman atau salah pengertian. 
Dari uraian tentang pemikiran para tokoh hermeneutik tersebut diatas, maka dapat  disimpulkan bahwa hermeneutik pada dasarnya sangat terkait dengan proses pemahaman (verstehen) terhadap realitas (makna) apapun terutama yang berkaitan dengan teks yang bernilai historis. Kalau dicari akarnya, hermeneutik terutama pada abad ke 19, yakni sejak jaman Wilhelm Dilthey sebenarnya berfungsi sebagai metodologis yang mandiri. Sebagai metode tentunya ia memiliki alasan epistemologis tersendiri. Hal ini misalnya tampak dalam gagasan Dilthey yang memilah fakta fisis yang menjadi obyek ilmu pengetahuan alam dengan fakta hidup yang menjadi obyek bagi ilmu pengetahuan kemanusiaan. Jika dalam ilmu pengetahuan alam obyek yang dihadapinya cenderung konstans dan konsisten, sehingga memungkinkan untuk dapat dijelaskan dan diabstraksikan menuju perumusan hukum dan teori. Namun akan lain halnya dengan realitas kemanusiaan berikut produk-produknya sangat bersifat relatif sekali. Bagi Dilthey sebagaimana tokoh hermeneutik lainnya menganggap bahwa realitas hidup itu sangat unik dan relatif memiliki makna yang beragam. Setiap individu tentu mengalami dan memahami makna hidupnya tersendiri. Oleh karena pengalaman dan pemahaman setiap individu berbeda antara satu dengan yang lainnya, maka tidak ada kesatuan abstraksi yang bersifat universal tentang fakta-fakta kehidupan manusia. Disinilah letak signifikasi metode hermeneutik dalam kajian-kajian ilmu kemanusiaan. Dengan demikian, berbeda dengan metodologis ilmu pengalaman alam yang secara sadar dan tegas membuat jarak senetral mungkin antara subyek dan obyek, maka dalam metode hermeneutik justru subyek meleburkan diri dan memperbanyak dialog dan partisipasi dalam wilayah tradisi dan jaringan teks. 
Dalam perspektif sejarah filsafat ilmu tampaknya kehadiran hermeneutik memberikan alternatif  lain bagi perkembangan metodologis keilmuan pada umumnya. Hal ini dapat dipahami mengingat sejak awal abad 19 hingga awal abad 20 pertumbuhan metodologis keilmuan senantiasa didominasi oleh semangat neo-positivisme. Semangat metodis ini untuk pertama kalinya diperkenalkan oleh Lingkaran Wina (Wiener Kreis). Dalam operasi metodisnya Wiener Kreis ini memberikan pengutamaan pada pengolahan secara logika terhadap bahan-bahan empirik. Cara kerja yang berwatak empirik-logis ini untuk pertama kalinya diintrodusir oleh Rudolf Carnap (1891-1970). Ia selalu menyatakan bahwa kita tidak dapat bekerja dengan memakai logika lama, sebaliknya logika baru mengandung segala kemungkinan untuk mengolah bahan-bahan empirik yang tersedia.   Selain bersifat empirik-logis, prinsip metodis yang paling ditonjolkan adalah verifikasi. Verifikasi berarti pengukuhan oleh pangamatan empirik. Sebagai akibat dari prinsip metodis ini maka setiap tanggapan yang pada dasarnya tidak dapat dikukuhkan oleh pengamatan empirik dianggap tidak bermakna. Dengan demikian yang bermakna ialah apa yang dapat dikukuhkan oleh fakta-fakta. 
Kalau tanggapan yang diperoleh melalui pengamatan empirik senantiasa berupa bahasa, yakni pernyataan-pernyataan yang disusun berdasarkan logika. Maka, sebagaimana ditekankan oleh Morizt Schlick (1882-1936), hanya pernyataan-pernyataan logis yang dapat diverifikasi secara empiriklah yang dapat disebut sebagai pernyataan yang bermakna (benar). Meskipun demikian Lingkaran Wina sendiri masih mengakui adanya pernyataan-pernyataan logis yang tidak dapat diverifikasi secara empirik. Pernyataan-pernyataan ini lazim dinamakan sebagai tautologis. Tautologis ini hanya menunjukkan apa yang dikandung dalam praanggapan-praanggapan tertentu dalam bentuk aksioma. 
Tampaknya prinsip-prinsip metodis dari Lingkaran Wina tersebut bukan suatu kebetulan jika kemudian memperoleh kesesuaiannya dengan tradisi berpikir neo-realisme (analitika bahasa) Inggris. Hal ini dapat dimaklumi, karena setelah bubarnya Lingkaran Wina sejumlah anggotanya mengungsi ke Inggris. Sehingga wajar jika dalam jangka waktu tertentu neo-realisme memperlihatkan kesesuaian pemikiran yang sangat besar dengan neo-positivisme. Pengaruh neo-positivisme tidak akan begitu besarnya seandainya tokoh Austria, Ludwig Wittgenstein (1889-1951) tidak semenjak masa hidupnya sebagai mahasiswa berhubungan erat dengan Russell dengan lingkungan Cambridge, baik Lingkaran Wina maupun neo-realisme Inggris kemudian sangat terpengaruh oleh Wittgenstein. 
Pada awalnya yakni sebagaimana tertuang dalam karyanya “Tractatus Philosophicus”, pemikirannya sangat dipengaruhi oleh picture theory-nya Bertrand Russell. Menurutnya, antara dunia dan bahasa ada paralel mutlak.  Bahasa mencerminkan dunia dan pemakaian bahasa menurut struktur yang tepat, dapat memberikan pemahaman tentang struktur dunia. Di dalam pikiran awalnya ini,  ia berpendirian bahwa bahasa terdiri dari kalimat-kalimat atom atau atom-atom logis, yaitu ungkapan-ungkapan yang paling sederhana, dan tidak dapat direduksi lagi. Dan ucapan-ucapan itu terdiri dari tanda-tanda atau nama-nama sederhana yang langsung menunjukkan obyek.  Dengan demikian  menurutnya seluruh tugas filsafat ialah menjelaskan dan menepatkan bahasa, sebab dengan jalan demikian juga dunia sendiri menjadi jelas.  Dalam pendirian ini  tersirat  bahwa ungkapan bahasa tidak dapat melampaui batas-batas riil dunia. Batas-batas bahasa juga merupakan batas-batas dunia.    Sehingga ungkapan bahasa yang tidak memiliki kesesuaian dengan dunia riel dianggap tidak bermakna. Prinsip inilah  yang kemudian dikembangkan oleh neo-positivisme menjadi operasionalisasi metodis empirik-logis, dimana verifikasi menjadi satu-satunya alat metodis yang dianggap paling sahih untuk menentukan bermakna tidaknya suatu pernyataan-pernyataan.
Pada masa kedua pemikirannya, yakni dalam karyanya “Philosophical Investigation”, ia tidak lagi menggunakan kerangka pendekatan picture theory, yang menunjuk pada kesesuaian antara bahasa dan dunia riil (external consistency). Menurutnya pikiran dan bahasa tidak dapat dipisahkan. Pikiran bukanlah suatu proses dibalik bahasa, melainkan terjadi dalam dan terdiri dari linguistic behaviour. Bahasa tidak dapat dikembalikan hanya kepada satu struktur logis saja, seperti misalnya ada dalam ucapan-ucapan yang bersifat kognitif atau deskriptif belaka. Bahasa bukan hanya memberikan informasi tetapi mempunyai fungsi dan makna yang bermacam-macam, misalnya bersumpah, berdoa, membicarakan warna atau penyakit; ada bahasa ilmiah, bahasa puisi dan seni, bahasa etis, keserbaragaman itu harus diterima sebagai fakta dan diungkapkannya dengan istilah language games.  Dalam berbagai macam language games, kata-kata tidak mempunyai arti apriori. “Arti” itu bukan sesuatu dibelakang bahasa: tidak ada arti “pokok”. Arti kata-kata tergantung dari pemakaiannya. Arti itu seluruhnya tergantung dari tempatnya di dalam salah satu “permainan bahasa” itu, dalam konteks hidup dan kegiatan.   Prinsip tentang relatifitas makna yang terdapat pada teks inilah yang nantinya dikembangkan ke dalam tradisi hermeneutik. Dimana untuk “memahami”  (verstehen) makna suatu teks dalam arti luas (termasuk fakta-fakta kemanusiaan pada khususnya ) diperlukan upaya “mengalami”  terlebih dahulu dengan konstelasi teks yang hendak dipahami. Dengan kata lain, sebagaimana dalam dalam metode ilmu pada umumnya, hermeneutik berusaha menemukan gambaran dari sebuah bangunan makna yang benar , yang terjadi dalam sejarah yang dihadirkan kepada kita  oleh teks.   Namun berbeda dengan metode keilmuan lainnya, terutama dengan ilmu pengetahuan alam, dalam proses pemahaman dan penafsiran ini tidak dengan menggunakan pola bernalar  induksi dan tidak pula deduksi melainkan dengan pola bernalar alternatif yang disebut abduksi, yaitu: menjelaskan data berdasarkan asumsi dan analogi penalaran serta hipotesa-hipotesa yang memiliki berbagai kemungkinan kebenaran. Disini pra-konsepsi dan pra-disposisi
seorang penafsir dalam memahami  teks memiliki peran yang besar dalam membangun makna.
Dari keseluruhan uraian tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa apabila tradisi neo-positivisme yang menggunakan prinsip-prinsip metodis seperti empiris-logis dan verifikasi memiliki akar filosofis ke dalam pemikiran awal Wittgenstein, maka tradisi hermeneutik yang menggunakan prinsip-prinsip metodis seperti verstehen, abduksi memiliki akar filosofisnya ke dalam pemikiran kedua Wittgenstein. Dengan demikian, kedua tradisi ini sebenarnya saling melengkapi satu dengan lainnya.

DAFTAR KEPUSTAKAAN

Bauman, Zygmunt. Hermeneutics and Social Science (New York: Columbia University Press,1978)
Bertens, Kees. Filsafat Barat Abad XX (Inggris-Jerman) (Jakarta: PT. Gramedia,1983)
Charlesworth, M.J.Philosophy and Linguistic Analysis (Pitsburgh: Duquesne University,1959)
Delfgaauw, Bernard. Filsafat Abad 20, terj. Soejono Soemargono (Yogyakarta: PT. Tiara Wacana Yogya,1988)
Edward (ed), The Encyclopedia of Philosophy (New York: MacMillan co.,1972),8-336-338
Gadamer, Hans-Georg. Truth and Method (New York: Crossroad Publishing Co.,1986)
Habermas, Jurgen .Knowledge And Human Interest (Boston: Connecticut Greenwood Press,1972),144
Hidayat, Komaruddin. Memahami Bahasa Agama: Sebuah Kajian Hermeneutik (Jakarta: Paramadina,1996),18
Kreemer, Angele – Marietti,Dilthey (Paris: Seghers,1971)
Montefiore, Alan. Philosophy in France today (Cambridge: Cambridge University Press,1983)
Palmers, Richard F.,Hermeneutics(Evanston:Northwestern University Press,1969)
Ricoeur, Paul. Hermeneutics And The Human Sciences (Cambridge: Cambridge University Press,1985)
Schleiermacher F.D.F.,Hermeneutics: The Handwritten Manuscript, Heinz Kimmerle (New York: Montana Scholar Press,1977)
Sumaryono, E.Hermeneutik: Sebuah Metode Filsafat (Yogyakarta: Kanisius,1993)
Thiselton, Antony C..New Horizon in Hermeneutics (Michigan: Zondervan Publishing House,1992)
Weinberg, J.R.An Examination of Logical Positivism (London: Routledge-Kegan Paul,1950)
 





Paradigm Shift Thomas Kuhn

7 02 2008

A. Pendahuluan
Pandangan kaum Induktivisme dan Falsifikanisme tentang ilmu, yang hanya memusatkan perhatian pada relasi antara teori dan observasi, dan telah gagal memperhitungkan kompleksitas yang terdapat dalam teori ilmiah yang urgen. Baik itu pada penekanan kaum induktifis naif yang menarik teori secara induktif dari hasil observasi,  maupun kaum falsifikasi yang menarik dari hasil reduksinya.
Dengan teori general dan koheren, konsep akan dapat memperoleh makna yang tepat dan memungkinkan memenuhi kebutuhan untuk berkembang lebih efisien. Karena di dalamnya terdapat petunjuk dan keterangan mengenai baggaimana seharusnya teori (ilmu) dikembangkan secara luas.
Menurut Khun, ilmu dapat berkembang maju dalam pengertian tertentu, jika ia tidak dapat mencapai kesempurnaan absolud dalam konotasi dapat dirumuskan dengan definisi teori. Oleh karena itu ia memandang bahwa ilmu itu berkembang secara open-endend atau sifatnya selalu terbuka untuk direduksi dan dikembangkan.
Adapun Skema progress Sains menurut Khun dapat penulis sajikan sebagai berikut :
Praparadigma-prasscience –Paradigma-Norma Science—Anomali Kritis –Revolusi Paradigma Baru – Ekstra ordinary Science.
Konsep sentra Khun dalam bukunya “The Strukture of Science Revololution” adalah Paradigma yang merupakan elemen primer dalam progress Sains. Seorang ilmuan selalu bekerja dengan paradigma tertentu, dan teori-teori ilmiah dibangun sekitar paradigma dasar. Paradigma itu memungkinkan seorang ilmuan untuk memecahkan kesulitan-kesulitan yang lahir dalam kerangka ilmunya, sampai muncul begitu banyak anomali yang tidak dapat dimasukkan ke dalam kerangka ilmunya dan menuntut adanya revolusi paradigmatic terhadap ilmu tersebut.

II. Pembahasan
A. Pengertian Paradigma
Pengertian paradigma menurut kamus filsafat adalah :
1. Cara memandang sesuatu.
2. Model, pola, ideal dalam ilmu pengetahuan. Dari model-model ini fenomena dipandang dan dijelaskan.
3. Totalitas premis-premis teoritis dan metodologis yang menentukan dan menentukan atau mendefinisikan sutau study ilmiah kongkrit dan ini melekat di dalam praktek ilmiah pada tahap tertentu.
4. Dasar untuk menyeleksi problem-problem dan pola untuk memecahkan problem-problem riset.
Dalam “The structure of Science Revolution”, Kuhn menggunakan paradigma dalam dua pengertian. Di satu pihak paradigma berarti keseluruan konstelasi kepercayaan, nilai, teknik yang dimiliki bersama oleh anggota masyarakat ilmiah tertentu. Di pihak lain paradigma menunjukan sejenis unsur dalam konstelasi itu dan pemecahan teka-teki yang kongkrit yang jika digunakan sebagai model, pola, atau contoh dapat menggantikan kaidah-kaidah yang eksplisit sebagai dasar bagi pemecahan permasalahan dan teka-teki normal sains yang masih tersisa.  Paradigma merupakan suatu keputusan yudikatif dalam hukum yang tidak tertulis.
Secara singkat pengertian pradigma adalah Keseluruhan konstelasi kepercayaan, nilai dan teknik yang dimiliki suatu komunitas ilmiah dalam memandang sesuatu (fenomena). Paradigma membantu merumuskan tentang apa yang harus dipelajari, persoalan apa yang harus dijawab dan aturan apa yang harus diikuti dalam menginterpretasikan jawaban yang diperoleh.

B. Pandangan Kuhn tentang perkembangan Ilmu (open ended).
Kuhn melihat adanya kesalahan-kesalahan fondamental tentang image atau konsep ilmu yang telah dielaborasi oleh kaum filsafat ortodoks, sebuah konsep ilmu yang dengan membabi-buta mempertahankan dogma-dogma yang diwarisi dari Empirisme dan Rasionalisme klasik.  Dalam teori Kuhn, faktor Sosiologis Historis serta Phsikologis mendapat perhatian dan ikut berperan. Kuhn berusaha menjadikan teori tentang ilmu lebih cocok dengan situasi sejarah. Dengan demikian diharapkan filsafat ilmu lebih mendekati kenyataan ilmu dan aktifitas ilmiah sesungguhnya,  yang dalam perkembangan ilmu tersebut adalah secara revolusioner bukan secara kumulatif sebagaimana anggapan kaum rasonalis dan empiris klasik.
Kuhn memberikan image atau konsep sains alternatif dalam outline yang ia gambarkan dalam bebeapa stage, yaitu :
Pra paradigma – Pra ilmu – Paradigma-Normal Science – Anomali-Krisis – Revolusi- Paradigma Baru-Ekstra ordinary Science – Anomali- Krisis – Revolusi.

1. Pra paradigma-Pra ilmu
Pada stage ini terdapat persetujuan yang kecil bahkan tidak ada persetujuan tentang subjeck matter, problem-problem dan prosedur di antara para ilmuwan yang bersaing,  karena tidak adanya suatu pandangan tersendiri yang diterima oleh semua ilmuan tentang suatu teori (fenomena), maka aktivitas-aktivitas ilmiah pada stage ini dilakukan secara terpisah dan tidak terorganisir.  Sejumlah aliran yang bersaing, kebanyakan diantara mereka mendukung satu atau lain varian dalam teori tertentu, misalnya tentang sifat cahaya. Teori Epicurus, teori Aristoteles, atau teori Plato, satu kelompok menganggap cahaya sebagai partikel-partikel yang keluar dari benda-benda yang berwujud; bagi yang lain cahaya adalah modifikasi dari medium yang menghalang di antara benda itu dan mata; yang lain lagi menerangkan cahaya sebagai interaksi antara medium dan yang dikeluarkan oleh mata; di samping itu ada kombinasi dan modifikasi lain yang masing-masing aliran mendukung teorinya sendiri-sendiri.  Sehingga sejumlah teori boleh dikatakan ada sebanyak jumlah pelaksanaannya di lapangan dan setiap ahli teori itu merasa wajib memulai dengan yang baru dan membenarkan pendekatannya sendiri.
Walaupun aktifitas ilmiah masing-masing aliran tersebut dilakukan secara terpisah, tidak terorganisir sesuai dengan pandangan yang dianut halini tetap memberikan sumbangan yang penting kepada jumlah konsep, gejala, teknik yang dari padanya suatu paradigma tunggal akan diterima oleh semua aliran-aliran ilmuan tersebut, dan ketika paradigma tunggal diterima, maka jalan menuju normal science mulai ditemukan.
Dengan kemampuan paradigma dalam membanding penyelidikan, menentukan teknik memecahkan masalah, dan prosedur-prosedur riset, maka ia dapat menerima (mengatasi) ketergantungan observasi pada teori.

2. Paradigma normal science
Para stage ini, tidak terdapat sengketa pendapat mengenai hal-hal fundamental di antara para ilmuan sehingga paradigma tunggal diterima oleh semuanya. Dan hal inilah merupakan ciri yang membedakan antara normal science dan pra science.  Paradigma tunggal yang telah diterima tersebut dilindungi dari kritik dan falsifikasi sehingga ia tahan dari berbagai kritik dan falsifikasi.
Paradigma yang membimbing eksperimen atau riset ilmiah tersebut memungkiri adanya definisi yang ketat, meskipun demkian, didalam paradigma tersebut tercakup :
Beberapa komponen tipikal yang secara eksplisit akan mengemukakan hukum-hukum dan asumsi-asumsi teoritis. Dengan demikiann, hukum “gerak” Newton membentuk sebagian paradigma Newtonian. Dan hukum “persamaan” Maxwell merupakan sebagian paradigma yang telah membentuk teori elektromagnetik klasik.
Beberapa cara yang baku dalam penggunaan hukum-hukum fundamental untuk berbagai tipe situasi.
Beberapa instrumentasi dan teknik-tekniknya yang diperlukan untuk membuat agar hukum-hukum paradigma itu dapat bertahan dalam dunia nyata dan di dalam paradigma itu sendiri.
Beberapa prinsip metafisis yang sangat umum yang membimbing pekerjaan di dalam suatu paradigma.
Bebrapa keterangan metodologis yang sangat umum yang memberikan cara pemecahan teka-teki science.
Normal science melibatkan usaha terperinci dan terorganisir untuk menjabarkan paradigma dengan tujuan memperbaiki imbangannya dengan alam (fenomena) dengan memecahkan teka-teki science, baik teka-teki teoritis maupun teka-teki eksperimental. Teka-teki teoritis (dalam paradigma Newtonian) meliputi perencanaan teknik matematik untuk menangani gerak suatu planet yang tergantung pada beberapa gaya tarik dan mengembangkan asumsi yang sesuai untuk penterapan hukum Newton pada benda cair. Teka-teki eksperimental meliputi perbaikan keakuratan observasi dan pengembangan teknik eksperimen sehingga mampu menghasilkan pengukuran yang dapat dipercaya.
Dalam stage ini terdapat tiga fokus yang normal bagi penelitian science faktual, yaitu :
a) Menentukan fakta yang penting.
b) Menyesuaikan fakta dengan teori. Upaya menyesuaikan fakta dengan teori ini lebih nyata ketergantungannya pada paradigma. Eksistensi paradigma itu menetapkan dan menyususn masalah-masalah yang harus dipecahkan; seringkali paradigma itu secara implisit terlibat langsung di dalam desain peralatan yang mampu memecahkan masalah tersebut.
c)  Mengartikulasikan teori paradigma dengan memecahkan beberapa ambiguitasnya yang masih tersisa dan memungkinkan pemecahan masalah yang sebelumnya hanya menarik perhatian saja.
Barangkali ciri yang paling menonjol dari masalah riset yang normal dalam stage ini adalah betapa sedikitnya masalah-masalah itu ditujukan untuk menghasilkan penemuan-penemuan baru yang besar, yang konseptual atau yang hebat tetapi; normal science sasarannya adalah memecahkan teka-teki dan masalah-masalah science. Teka-teki tersebut harus ditandai oleh kepastian akan adanya pemecahannya dari paradigma.  Jika ilmuan gagal memecahkan teka-teki science tersebut maka kegagalan tersebut merupakan kegagalan ilmu itu sendiri bukan kegagalan paradigma. Teka-teki yang tidak terpecahkan dipandang sebagai kelainan (anomali) bukan sebagai falsifikasi suatu paradigma.
Dalam pemecahan teka-teki dan masalah science normal, jika dijumpai problem, kelainan, kegagalan (anomali) yang tidak mendasar, maka keadaan ini tidak akan mendatangkan krisis. Sebaliknya jika sejumlah anomali atau fenomena-fenomena yang tidak dapat dijawab oleh paradigma muncul secara terus menerus dan secara mendasar menyerang paradigma, maka ini akan mendatangkan suatu krisis.

3.  Krisis Revolusi
Walaupun sasaran normal adalah memecahkan teka-teki science dan bukan mengahsilkan penemuan-penemuan baru yang konseptual, gejala-gejala baru dan tidak terduga berulangkali muncul dan tersingkap oleh ilmiah tersebut yang diikuti dengan munculnya teori-teori baru.
Apabila hal-hal baru yang terungkap tersebut tidak dapat diterangkan oleh paradigma dan kelainan-kelainan antara teori dan fakta menimbulkan problem yang gawat, dan anomali-anomali tersebut secara fundamental menyerang paradigma maka dalam keadaan demikian, kepercayaan terhadap paradigma mulai goyah yang kemudian terjadilah keadaan krisis yang berujung pada perubahan paradigma (revolusi).
Anomali dipandang sebagai hal serius yang dapat menggoyahkan paradigma jika anomali tersebut :
a) Menyerang hal-hal yang paling fundamental dari suatu paradigma dan secara gigih menentang usaha para ilmuan normal science untuk mengabaikannya.
b) Mempunyai arti penting dalam kaitannya dengan beberapa kebutuhan masyarakat yang mendesak.
Krisis dapat diasumsikan sebagai pra kondisi yang diperlukan dan penting bagi munculnya teori-teori baru. Pada stage ini diantara para ilmuan normal science terjadi sengketa filosofis dan metafisis. Mereka membela penemuan baru dengan argumen-argumen filosofis dari posisi dubuis dipandang dari sudut paradigma. Walaupun kemungkinan mereka kehilangan kepercayaan dan kemudian mempertimbangkan beberapa alternatif, mereka tidak meninggalkan paradigma yang telah membawa mereka kedalam krisis begitu saja.  Sampai diterimanya suatu paradigma baru yang berbeda dari paradigma semula.
Setiap krisis selalu diawali dengan penngkaburan paradigma serta pengenduran kaidah-kaidah riset yang normal, sebagai akibatnya paradigma baru (paradigma rival) muncul, setidak-tidaknya sebagai embrio, sebelum krisis berkembang lebih jauh atau telah diakui dengan tegas.
Karya Lavoisier menyajikan kasus seperti itu. Notanya yang disegel diserahkan kepada akademi Prancis kurang dari satu tahun setelah studi pertamanya yang seksama tentang perbandingan Barat dalam teori Flegiston dan sebelum publikasi-publikasi Priestley secara tuntas menyingkap krisis dalam kimia pneumatic. Demikian halnya dengan Thomas Young tentang teori gelombang dari cahaya, muncul pada tahap awal sekali ketika krisis dalam optika sedang berkembang.
Persaingan antara paradigma yang telah dianut dan paradigma rival yang muncul, menandai adanya kegawatan suatu krisis. Paradigma-paradigma yang bersaing akan memandang berbagai macam pertanyaan sebagai hal yang sah dan penuh arti dilihat dari masing-masing paradigma. Pertanyaan-pertanyaan mengenai beratnya phlogiston adalah penting bagi para ahli teori phlogiston, tetapi hampa bagi Lavoisier. Soal “aksi” pada suatu jarak yang tidak dapat diterangkan itu, diterima oleh kaum Newton, tetapi ditolak oleh kaum Cartesian sebagai hal yang metafisis bahkan gaib. Gerak tanpa sebab adalah mustahil bagi Aristoteles, tetapi dipandang sebagai aksiomatik bagi Newton.
Setiap paradigma yang bersaing akan memandang dunia ini terbuat dari berbagai macam hal yang berlainan dan masing-masing paradigma tersebut akan melibatkan standar yang berlainan dan bertentangan dalam memandang dunia. Paradigma Aristotelian melihat alam semesta ini terbagi menjadi dua dunia dunia yang berlainan, dunia super-lunar (yang abadi dan tidak berubah-ubah) dan dunia sub-lunar (yang bisa musnah dan berubah-ubah). Paradigma yang muncul berikutnya melihat alam semesta terbuat dari bahan-bahan material yang sama.  Kuhn beragumentasi bahwa, para penyususn paradigma baru (paradigma rival) hidup di dalam dunia yang berlainan.
Oleh karena itu, dalam diskusi dan adu argumen antara pendukung paradigmayang bersaing tersebut adalah untuk mencoba meyakinkan dan bukan memaksakan paradigma. Sebab tidak ada argumen logis yang murni yang dapat mendemontrasikan superioritas satu paradigma atas lainnya, yang karenanya dapat memaksa seorang ilmuan yang rasional untuk melakukan perpindahan paradigma.
Peristiwa perubahan kesetiaan para ilmuan ondividual dari satu paradigma ke paradigma lain disamakan oleh Kuhn dengan “Gestalt Switch” (perpindahan secara keseluruhan atau tidak sama sekali). Juga disamakan dengan “religious conversion” (pertukaran agama).
Tidak adanya alasan logis yang memaksa seorang ilmuan yang melepaskan paradigmanya dan mengambil yang menjadi rivalnya karena berkenaan dengan adanya kenyataan bahwa :
a) Berbagai macam faktor terlibat dalam keputusan seorang ilmuan mengenai faedah suatu teori ilmiah.
b) Penyusun paradigma-paradigma yang bersaing menganut berbagai perangkat standar, prinsip metafisik dan lain sebagainya yang berlainan.
Keputusan seorang ilmuan individual akan tergantung pada prioritas yang ia berikan pada beberapa faktor, faktor tersebut antara lain :
– Kesederhanaan
– Kebutuhan sosial yang mendesak
– Kemampuan memecahkan problem khusus
– Kerapihan dan kecocokan dengan permasalahan yang dihadapi.
Oleh karena itu, para pendukung paradigma tidak akan saling menerima premis lawannya dan karenanya masing-masing tidak perlu dipaksa oleh argumen rivalnya. Menurut Kuhn, faktor-faktor yang benar-benar terbukti efektif yang menyebabkan para ilmuan mengubah paradigma adalah masalah yang harus diungkap oleh penyelidikan psikologi dan sosiologi.   Karena hal itulah Kuhn dianggap sebagai seorang Relativis.
Proses peralihan komunitas ilmiah dari paradigma lama ke paradigma baru yang berlawanan inilah yang dimaksud oleh Kuhn sebagai revolusi science. Oleh karena itu, menurut Kuhn, perkembangan ilmu itu tidak secara komulatif dan evolusioner tetapi, secara revolusioner, yakni membuang paradigma lama dan mengambil paradigma baru yang berlawanan dan bertentangan. Paradigma baru tersebut dianggap dan diyakini lebih memberikan janji atas kemampuannya memecahkan masalah untuk masa depan.
Melalui revolusi science inilah menurut Kuhn perkembangan ilmu akan terjadi. Dengan paradigma baru para pengikutnya mulai melihat subjek maler dari sudut pandang yang baru dan berbeda dengan yang semula, dan teknik metodologinya lebih unggul dibanding paradigma klasik dalam memecahkan masalah yang dihadapi. Berdasarkan paradigma baru inilah tradisi ektra ordinari science dilakukan oleh para komunitas ilmuan yang mendukungnya dan sampai pada tahap tertentu dapat meyakinkan para pendukung paradigma klasik tentang keberadaan paradigma baru yang lebih mendekati kebenaran dan lebih unggul dalam mengatasi science di masa depan.
Apabila para pendukung paradigma klasik tetap keras kepala terhadap paradigma yang dianutnya dengan berusaha melakukan upaya pemecahan-pemecahan science normal berdasarkan paradigmanya walaupun berhasil mengatasi permasalahan itu revolusi besar dan kemajuan science tidak terjadi. Mereka tetap berada dan terperangkap dalam stage normal science dan tetap sebagai ilmuan biasa.
Menurut Kuhn, tidak ada paradigma yang sempurna dan terbebas dari kelainan-kelainan (anomali), sebagai konsekwensinya ilmu harus mengandung suatu cara untuk mendobrak keluar dari satu paradigma ke paradigma lain yang lebih baik, inilah fungsi revolusi tersebut.
C. Komentar Singkat tentang Konsep Science Kuhn
Konsep Kuhn tentang science progres yang terdapat dalam bukunya “The Structure Of Scientific Revolution yang berpusat pada paradigma, telah mendobrak adanya citra suatu pencapaian ilmiah yang absolut, atau suatu yang mempunyai kebenaran seakan-akan suigeneris dan objektif. Kuhn menyatakan bahwa, pengetahuan tidak terlepas dari ruang dan waktu.
Konsep dan pandangan Kuhn tentang science progres tersebut memungkinkan terjadinya perkembangan ilmu pengetahuan yang pesat dengan revolusi besar menuju ke arah yang makin mendekati kesempurnaan dan lebih sesuai dengan kondisi sejarah dan zaman.
Dengan konsep paradigmanya yang fleksibel dan tidak ketat di satu sisi, mampu mendukung adanya tradisi-tradisi ilmiah dan melepaskan adanya ketergantungan observasi pada teori. Di sisi lain, sifat paradigma yang tidak sempurna dan tidak terbebas dari anomali-anomali, mampu mendorong terjadinya suatu revolusi science dan mencapai kemajuan ilmu pengetahuan yang pesat.
Jika mengikuti model konsep Kuhn tentang perkembangan ilmu tersebut, maka adalah suatu kekeliruan serius jika seorang ilmuan hanya memegang satu paradigma klasik saja, sedang anomali-anomali menyerang paradigmanya secara fundamental, walaupun tidak ada argumen logis yang dapat memaksa ilmuan untuk melakukan konversi paradigma.

1. Paradigma lahir menurut zamannya
Setiap paradigma yang muncul adalah diperuntukkan mengatasi dan menjawab teka-teki atau permasalahan yang dihadapi pada zaman tertentu. Jika mengikuti pendapat Kuhn, bahwa ilmu pengetahuan itu terikat oleh ruang dan waktu, maka sudah jelas bahwa suatu paradigma hanya cocok dan sesuai untuk permasalahan yang ada pada saat tertentusaja. Sehingga apabila dihadapkan pada permasalahan berbeda dan pada kondisi yang berlainan, maka perpindahan dari satu paradigma ke paradigma yang baru yang lebih sesuai adalah suatu keharusan.
Sebagaimana dalam ilmu-ilmu sosial yang berparadigma ganda, usaha-usaha dalam menemukan paradigma yang lebih mampu menjawab permasalahan yang ada sesuai perkembangan zaman terus dilakukan. Perpaduan antara paradigma fakta sosial, paradigma perilaku sosial, dan paradigma definisi sosial yang masing-masing mempunyai perbedaan dan berlawanan diformulasikan dalam suatu paradigma yang utuh yang dapat memecahkan permasalahan yang lebih kompleks seiring dengan perkembangan zaman.
Dari hal tersebut mencerminkan adanya suatu kemajuan dalam bidang tertentu jika terjadi revolusi-revolusi yang ditandai adanya perpindahan dari paradigma klasik ke paradigma baru.

2. Aplikasi Paradigma dalam Ilmu Agama
Mungkinkan revolusi yang ditandai konversi paradigma tersebut terjadi dalam ilmu-ilmu agama? Pertanyaan itu paling tidak mengingatkan kita pada sejarah penetapan hukum oleh salah satu imam mazhab empat yang terkenal dengan qaul qadim dan jadidnya. Adanya perubahan (revolusi) tersebut terjadi karena dihadapkan pada perbedaan varian kondisi ruang dan waktu.
Berpijak pada hal tersebut dan pola yang dikembangkan Kuhn maka sudah menjadi keniscayaan untuk menemukan paradigma baru dalam menjawab permasalahan dan tantangan zaman. Paradigma yang telah dibuat pijakan oleh para ulama terdahulu yang muncul sesuai dengan varian kondisi ruang dan waktunya serta kecenderungan profesionalnya perlu dipertanyakan dengan melihat kenyataan-kenyataan yang terjadi pada saat terakhir ini.
Sebagai contoh, pemikir muslim Hasan Hanafi dengan konsep kiri Islamnya, telah mencoba menawarkan paradigma baru dalam ajaran pokok Islam, yakni Tauhid. Konsep atau ajaran Tauhid yang hanya dipandang dan dilekatkan pada ke-Esaan Tuhan perlu dirubah dan diperluas sebagai suatu konsep ketauhidanmakhlukNya sehingga akan terbentuk pola kehidupan umat yang seimbang antara ritual dan sosial, lahir dan batin, dunia dan akherat. Sehingga umat dapat melaksanakan tugas dan fungsinya di dunia dengan baik. Dan masih banyak lagi bidang-bidang yangperlu adanya pengembangan paradigma baru.

III. Penutup
Terlepas dari keberadaan Kuhn yang dianggap oleh pengkritiknya sebagai relativis dan teorinya dianggap bersifat subjektif. Paradigma Kuhn telah memberikan ontribusi dalam dinamika ilmu pengetahuan dan peradaban manusia serta mampu mendobrak citra pencapaian ilmu pengetahuan yang absolut dan tidak terikat ruang dan waktu. 





Anarkhisme metode

6 02 2008

picture-011.jpg

1. Pendahuluan
Makalah ini lebih dimaksudkan sebagai studi pengantar untuk memahami konstelasi perkembangan filsafat ilmu pada umumnya dan pemikiran yang cemerlang dari Paul Feyerabend pada khususnya. Oleh karena bersifat pengantar, maka didalamnya hanya berisi deskripsi informatif. Bahan-bahan disajikan dalam ketelanjangan yang bersahaja tanpa sentuhan kritik analisis. Ini dimaksudkan agar pembaca segera mencerna inti pemikiran dari Paul Feyerabend tanpa disibukkan untuk memilah uraian-uraian yang bersifat analisis. Meskipun demikian bukan berarti deskripsi ini segera mudah untuk dipahami. Oleh karenanya membacanya dengan tenang dan dingin lebih diharapkan oleh penulis agar detail-detail pemikiran Feyerabend selaku eksponen kontemporer tidak terabaikan sedikitpun.

2. Situasi Keilmuan Dewasa Ini
Sebagaimana dimaklumi bahwa bagaimanapun prestasi yang telah diraih ilmu sebagai aktifitas, produk dan metode   telah membawa kemajuan yang sedemikian signifikan dalam perkembangan kebudayaan dan peradaban manusia. Prestasi ini tentu saja selain ditentukan manfaat yang telah diberikan juga lebih disebabkan oleh peran yang dimainkannya dalam proses pendewasaan dan pencerahan kesadaran manusia.   Hal ini cukup beralasan jika dipertimbangkan bahwa ternyata dengan perangkatnya yang khas ilmu telah menunjukkan efisiensi dan efektifitasnya selaku instrumen unguk memenuhi kebutuhan kuriositas manusia baik sebagai alat eksplanasi, kontrol, dan prediksi.  Bila lebih jauh lagi diusut, maka efisiensi dan efektifitas ilmu sebenarnya terletak pada perangkat metodologisnya, yakni metode ilmiah.
Dengan fungsinya sebagai eksplanator, prediktor dan controler, ilmu dengan seperangkat prosedur dan metode ilmiahnya ini dalam perkembangannya pernah dijadikan sebagai satu-satunya standar utama dalam menentukan validitas dan reliabilitas kebenaran. Walhasil, kenyataan ini telah menyeret pandangan ekstrem tertentu terhadap keberadaan ilmu. Neo-positivisme, misalnya telah sampai pada anggapan bahwa sesuatu yang hanya dapat diuji melalui prosedur dan metode ilmiah sajalah yang memiliki status benar dan bermakna, selainnya adalah khayalan dan ilusi. Kelompok ini terutama bersandar pada pengamatan (observasi) dan eksprimentasi. Dengan kata lain, selain yang berdasar pengamatan tidak ada pengetahuan yang dianggap wajar dan ada-tidaknya pengamatan itu tergantung pada dapat-tidaknya ia dibenarkan, yaitu diperiksa secara empiris. Kedua ukuran inilah yang dinamakan prinsip verifikasi (the principle of verifiability).  
Tentu saja banyak persoalan yang timbul dalam kaitannya dengan prinsip verifikasi ini, terutama bila ditinjau dari sudut validitas dan reliabilitas kebenaran yang dicapai melalui observasi dan eksprimentasi. Misalnya, persoalan tentang kapan hasil pengamatan (observasi) itu terpercaya?; bagaimana menetapkan asas kebenarannya?; serta kapankah sejumlah pengamatan itu cukup diteliti agar pernyataan umum dapat dipercayai mengenai hal berlakunya secara pasti?, dan lain sebagainya. Keseluruhan persoalan inilah yang akhir-akhir ini mendapat kritik yang sedemikian tajam dari para filsuf keilmuan modern.
Pada dasarnya kritik yang dialamatkan kepada persoalan metode ilmiah ini pada umumnya dan ukuran kebenaran (kebermaknaan) suatu teori yang dipergunakan oleh kaum Neo-positivisme pada khususnya dapat dipilah ke dalam dua perspektif, yakni perspektif filosofis-metodologis dan perspektif historis.   Dalam perspektif filosofis-metodologis, para filsuf berusaha mempertanyakan persoalan yang berkaitan dengan dasar-dasar ilmu pengetahuan dan langkah-langkah prosedur ilmiah yang berlaku. Dalam hal ini misalnya dipertanyakan apakah sebenarnya yang dinamakan “konsep” , “pengamatan” (observasi), “teori”, “asumsi” dan lain sebagainya, demikian juga dipertanyakan apakah benar (tepat) prosedur serta operasi logika yang dipergunakan untuk menarik kesimpulan-kesimpulan teori ilmiah?. Dalam persoalan ini  –  untuk tidak bermaksud menampilkan seluruh contoh yang ada  –  sejumlah alternatif solusi dapat diketengahkan, misalnya: prinsip falsifikasi dari Karl Popper, program riset-nya Imre Lakatos, dan perbedaan standar keilmuan-nya Feyerabend dan lain sebagainya.  
Sementara dari perspektif historis, para filsuf keilmuan berusaha mempertanyakan persoalan yang berkaitan dengan perkembangan yang terjadi dalam sejarah ilmu dan  peranan sejarah ilmu dalam upaya mendapatkan serta mengkonstruksi wajah ilmu pengetahuan dan kegiatan ilmiah yang sesungguhnya terjadi.   Kritik yang berkaitan dengan masalah ini misalnya dilakukan oleh Thomas Kuhn, Michel Foucault, Jacques Derrida dan lain-lain.
Erat kaitannya dengan kritik yang dilontarkan oleh para filsuf keilmuan kontemporer tersebut diatas. Maka kritik yang dilakukan oleh Paul Feyerabend terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dewasa ini dinilai paling aktual dan memiliki relevansi yang cukup serius terutama bagi perkembangan peradaban dan kebudayaan manusia. Pemikiran dan kritik epistemologis Paul Feyerabend ini terutama dapat ditemukan pada dua buah karyanya yang cukup spektakuler yakni: “Againts Method : Outline of an Anarchistic Theory of Knowledge” dan sebuah makalah yang diberi judul “Philosophy of Science: A Subject With a Great Past”. Di dalam kedua karyanya tersebut, Feyerabend memaparkan seluruh kritiknya terhadap perkembangan ilmu pengetahuan terutama menyangkut aspek metodologis dan implementasi praktis-akademiknya. Kritik tersebut bila dikristalisasikan akan menjadi empat items, yakni: Apa Saja Boleh (Anything Goes), Ilmu-Ilmu Tidak Bisa Saling Diukur Dengan Standar Yang Sama, Ilmu Tidak Harus Mengungguli Bidang-Bidang Yang Lain,  dan Kebebasan Individu. Dalam makalah ini akan diuraikan secara agak singkat tentang bagaimana kritik yang dilancarkan oleh Feyerabend tersebut.

3. Apa Saja Boleh
Dalam kritiknya ini pada dasarnya Feyerabend ingin mendobrak anggapan bahwa ada keteraturan dalam perkembangan ilmu yang kemudian keteraturan itu diwujudkan dalam hukum dan sistem. Pendobrakkan ini dapat dimengerti jika kita mengingat betapa kompleksnya situasi realistik dalam ilmu pengetahuan. Maka tidak mungkin mengandalkan ilmu pengetahuan itu pada suatu metodologi atau hukum tertentu.   Dengan demikian menurutnya, ide ilmu dapat dan harus berjalan dengan hukum-hukum universal yang mapan adalah  tidak realistik dan juga merusak. Tidak realistik karena ia selalu menyederhanakan bakat manusia dan keadaan lingkungan yang mendorong atau menyebabkan perkembangan dan ia merusak karena berusaha untuk memberlakukan hukum-hukum itu cenderung meningkatkan kualifikasi profesional kita dengan mengorbankan kemanusiaan. Selain itu ide itupun merugikan ilmu sendiri karena ia mengabaikan perubahan ilmiah. Ia membuat ilmu makin kurang dapat dikelola dan makin dogmatik.  
Konsekuensi dari kritiknya tersebut, ia lalu mengemukakan bahwa semua metodologi mempunyai keterbatasannya dan satu-satunya hukum yang survive adalah “apa saja boleh” (anything goes). Menurut prinsipnya ini seorang ilmuwan tidak bisa didikte dalam situasi tertentu mendahulukan teori A dari teori B, atau harus menerima teori yang mendapatkan paling banyak.dukungan induktif dari fakta-fakta yang diterima dengan baik dan harus menolak teori yang tidak sesuai dengan fakta-fakta yang sudah diterima umum. Kebebasan seorang llmuwan dalam menentukan pilihan dan mengambil suatu keputusan harus ditegakkan, sebab keterikatannya kepada metodologi tertentu hanya akan menimbulkan kemandegan dan menghambat dinamika ilmu pengetahuan itu sendiri. Padahal tidak sesederhana itu situasi realistik yang dihadapi, dan setiap metodologi itu mempunyai keterbatasan-keterbatasan dan tidak akan pernah sempurna selamanya.
Tentu saja prinsip “apa saja boleh” yang diintrodusir oleh Feyerabend ini tidak harus diinterpretasikan dalam pengertian yang luas. Prinsip ini hanya memiliki relevansinya dengan masalah metodologi semata. Menurutnya, tidaklah bijaksana bagi para ilmuwan di dalam melakukan pilihan-pilihan dan keputusan terikat oleh hukum-hukum yang diatur atau terkandung di dalam metodologi ilmu. Dengan demikian para ilmuwan tidak harus terikat oleh hukum-hukum metodologi atau teori-teori tertentu.

4. Kebebasan Individu
Kritik tentang kebebasan individu ini sangat terkait dengan kritiknya tentang “apa saja boleh”. Menurutnya, kita harus membebaskan masyarakat dari kungkungan ilmu yang membatu secara ideologis, persis seperti nenek moyang kita membebaskan kita dari kungkungan “agama satu-satunya yang benar”.   Tampaknya kritik ini berdasar pada konsepnya tentang masyarakat. Menurutnya dalam masyarakat dewasa ini ilmu pengetahuan menduduki posisi yang sama dengan posisi agama pada abad Pertengahan. Ilmu pengetahuan mempunyai otoritas mutlak. Kendati dalam masyarakat seseorang boleh memilih agama  –  bahkan dalam  –  lingkungan masyarakat tertentu orang boleh memilih beragama ataua tidak beragama, ia tetap tidak bisa memilih mau mempelajari ilmu pengetahuan atau tidak. Yang ada hanyalah satu kemungkinan yaitu mau tidak mau ia harus mempelajari ilmu pengetahuan. Dengan kata lain, lmu pengetahuan tidak lagi berfungsi membebaskan manusia, namun justru menguasai dan memperbudak manusia. Pandangan ini amat jelas dalam artikel “How to Defend Society Againts Science”.
Berangkat dari konsepnya itu kemudian Feyerabend sangat menekankan kebebasan individu. Ia mendukung kebebasan manusia sebagaimana diperjuangkan oleh John Stuart Mill dalam karyanya “On Liberty”. Dengan mendukung kebebasan individu ini pandangan anarkhistiknya tentang ilmu terdukung juga, karena di dalam ilmu ia meningkatkan kebebasan individu dengan menyingkirkan segala bentuk kungkungan metodologis. Dengan demikian, menurutnya suatu masyarakat yang bebas tidak memberikan preferensi terhadap suatu ilmu diatas bentuk-bentuk pengetahuan lain, atau diatas tradisi-tradisi lain. Setiap orang harus mampu mengambil keputusan sendiri dan menetapkan apa yang paling cocok baginya. Dengan cara demikian setiap individu mempunyai informasi yang diperlukan untuk mengambil keputusan bebas.  

5. Ilmu-Ilmu Yang Tidak Bisa Saling Diukur Dengan Standar Yang Sama
Kritik tentang “ilmu-ilmu yang tidak bisa saling diukur dengan standar yang sama” ini berkaitan dengan aspek metodologis suatu pengetahuan ilmiah. Konsepnya ini bertumpu pada keadaan yang riel bahwa observasi pada kenyataannya sangat tergantung pada teori. Kritik ini dilontarkan sehubungan dengan sikap kaum Neo-positivisme terutama Empirisme Rasikal yang menekankan observasi sebagai ukuran bagi sah-tidaknya kualitas ilmiah.
Para ilmuwan yang beraliran Neo-positivisme terutama Empirisme Radikal, beranggapan bahwa ilmu harus bertolak dari observasi. Dan observasi ini kemudian memberikan dasar yang kukuh untuk membangun pengetahuan ilmiah diatasnya, sedangkan pengetahuan ilmiah disimpulkan dari keterangan observasi yang diperoleh melalui induksi. Dengan demikian ilmu dimulai dari fakta dan observasi. Observasi kemudian dirampatkan lewat induksi. Dengan cara ini hipotesa dapat disusun menjadi sumber penjabaran pernyataan baru: deduksi. Pernyataan ini kemudian diuji lagi terhadap fakta: verifikasi dan falsifikasi. Dengan demikian hipotesis (teori) yang telah disusun dinilai, yang mungkin disusun pernyataan baru berdasarkan teori itu, yang dapat mengakibatkan berlangsungnya pengamatan (penyelidikan baru). Dan tertutuplah lingkaran dari observasi ke observasi.   Dalam hal ini , Feyerabend tidak sependapat dengan kaum Neo-positivisme. Menurutnya, bukan observasi  yang menentukan teori, tetapi sebaliknya justru observasilah yang tergantung pada teori. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa apa yang terlihat oleh pengamat yakni pengalaman-pengalaman subyektif yang mereka alami tidak ditentukan semata-mata oleh gambar yang diterima oleh retina mereka, melainkan juga sangat tergantung pada pengalaman, pengetahuan, harapan-harapan dan keadaan umum bhatinnya.   Dengan demikian observasi sudah dibina oleh suatu rancangan teoritis dan teori itu secara terus-menerus dipengaruhi dan dikendalikan oleh observasi.
Selanjutnya keterangan observasi harus dibuat dalam bahasa teori, bagaimana pun samarnya. Sedemikian rupa sehingga keterangan observasi akan persis seperti kerangka teoritis atau konseptual yang mereka manfaatkan. Konsep “daya” sebagaimana dalam fisika adalah sesuatu yang sudah tertentukan, karena ia memiliki makna dari peran yang dimainkan di dalam teori tertenu, relatif otonom, yakni teori mekanika Newtonian. Menurut Feyerabend merumuskan keterangan observasu yang sama dalam suatu konteks teori yang berbeda. Makna dan interpretasi tentang konsep-konsep dan keterangan-keterangan observasi yang digunakan akan tergantung pada konteks teoritis dalam mana makna dan keterangan observasi itu muncul.    Dengan begitu, ia mau menentang anggapan yang memisahkan observasi dari teori. Di dalam beberapa kasus prinsip-prinsip fundamental dari dua teori rival mungkin berbeda sedemikian radikal. Sehingga tidak mungkin merumuskan konsep dasar dari teori yang satu deng standar teori yang lain. Dengan demikian tidaklah mungkin untuk saling membandingkan teori-teori rival tersebut secara logis.   Salah satu contoh yang diberikan oleh Feyerabend adalah tentang hubungan antara mekanika klasik dengan teori relativitas. Diinterpretasikan secara realistis. Menurut mekanika klasik yang mau melukiskan bagaimana dunia ini sebenarnya, baik yang dapat diobservasi  maupun tidak dapat diobservasi, merupakan obyek-obyek  fisik yang mempunyai bentuk, massa dan volume. Sifat-sifat  itu eksis di dalam obyek-obyek fisik dan dapat dirubah sebagai akibat suatu campur tangan fisik. Di dalam teori relativitas , diinterpretas secara realistis sifat-sifat seperti bentuk, massa dan volume yang tidak eksis lagi, tetapi menjadi relasi-relasi antar obyek. Ia menjadi kerangka referensi dan bisa dirubah tanpa interaksi fisik apa pun dengan mengganti  kerangka referensi  dari satu  ke yang lainnya. Sebagai akibatnya, keterangan apa pun mengenai obyek-obyek fisik di dalam mekanika klasik akan mempunyai makna berbeda dari keterangan observasi serupa di dalam teori relativitas. Dua teori itu tidak bisa saling diukur dan tidak dapat diukur dengan membandingkan konsekuensi-konsekuensi logis mereka.  
Meskipun demikian, menurut Feyerabend bukan berarti sepasang teori rival tidak bisa saling diukur dan diperbandingkan dengan cara apa pun. Salah satu cara untuk memperbandingkan sepasang teori rival adalah dengan mengkonfrontasikan mereka masing-masing pada serangkaian situasi yang dapat diobservasi, lalu kita catat seberapa jauh derajat masing-maing teori itu bisa sejalan dalam situasi-situasi tadi diinterpretasi sejauh kondisi masing-masing. Cara lain adalah dengan melibatkan pertimbangan-pertimbangan apakah mereka itu linear atau non-linear, koheren atau inkoheren. 

6. Ilmu Tidak Harus Mengungguli Bidang-Bidang Lain
Kritik selanjutnya yang dilancarkan oleh Feyerabend adalah hubungan antara ilmu dengan bentuk-bentuk pengetahuan lain. Ia mengemukakan bahwa banyak kau metodologis sudah menganggap benar, tanpa argumentasi bahwa ilmu (atau, mungkin fisika) membentuk paradigma rasionalitas. Hal ini mengakibatkan bahwa pembela-pembela  ilmu secara tipikal menilai ilmu adalah superior atas bentuk-bentuk pengetahuan yang lain. Berangkat dari kenyataan inilah kemudian Feyerabend merumuskan kritiknya bahwa ilmu tidak harus mengungguli bidang atau pengetahuan yang lain. Kritik ini bukan merupakan advokasi yang diberikan agar para saintis bersikap adil dan tidak menganggap bahwa ilmu yang digelutinya lebih superior dibanding dengan bidang atau pengetahuan yang lain. Apalagi  menganggap bahwa metode ilmiah yang ketat dengan prosedur logika sebaga ukuran standar untuk menentukan validitas dan reliabilitas pengetahuan apa pun. Tetapi kritik ini berangkat dari implikasi logis dari konsepnya tentang ilmu-ilmu yang tidak bisa saling diukur dengan standar yang sama.
Sebagaimana dikemukakan diatas bahwa pada kenyataannya setipa ilmu tentunya memiliki dasar dan kerangka teoritis yang berbeda satu dengan lain, sehingga dari sini tidaklah mungkin untuk dapat merumuskan suatu konsep dasar  yang sama dari konteks teoritis yang berbeda. Meskipun demikian pernyataannya ini bukan dimaksudkan untuk menempatkan posisi ilmu lebih tinggi dari bidang atau pengetahuan yang lain. Paul Feyerabend sangat menolak ide bahwa akan bisa lahir suatu argumen menentukan yang menguntungkan ilmu atas bentuk-bentuk pengetahuan lain yang saling tidak bisa saling diukur.   Apabila ilmu hendak diperbandingkan dengan bentuk-bentuk pengetahuan yang lain, maka diperlukan menyelidiki watak, tujuan yang lain. Dengan demikian, pengetahuan lain tidak bisa hanya sekedar mengasumsikan tanpa penelitian lebih jauh bahwa suatu bentuk pengetahuan yang sedang diteliti itu harus sesuai dengan hukum-hukum logika sebagaimana biasa dipahami oleh para filsuf dan rasionalisme kontemporer. Kegagalan untuk menyesuaikan tuntutan logika klasik boleh jadi ada, tetapi harus dianggap sebagai kesalahan. Sebagai contoh dalam wilayah keilmuan sendiri pun kadangkala sulit diperbandingkan antara yang satu dengan yang lainnya, yakni ilmu pengetahuan alam (Naturwissenschaften) dengan ilmu pengetahuan budaya (Geistewissenschaften). Menurut Wilhelm Dilthey ilmu pengetahuan budaya mempunyai suatu metode tersendiri, yang tidak dapat diasalkan dari metode ilmu pengetahuan alam.  Yang khusus bagi ilmu pengetahuan budaya ialah bahwa dalam ilmu pengetahuan itu dipraktekkan apa yang disebutnya verstehen (mengerti), sedangkan ilmu pengetahuan alam berdasarkan erklaren (menjelaskan). Erklaren berarti menjelaskan suatu kejadian atas dasar penyebabnya atau dengan kata lain   –  atas dasar suatu hukum alam yang umum. Bertentangan dengan benda-benda alam, maka produk-produk manusiawi hanya bisa didekati dengan verstehen. Suatu karya seni, misalnya, dpat dimengerti dengan menempatkannya dalam jaman historisnya atau dalam kehidupan seniman bersangkutan. Verstehen ialah menemukan makna suatu produk manusiawi, yang hanya dapat dilakukan dengan menempatkannya dalam konteksnya. 

7. Kesimpulan
Demikian uraian singkat yang dapat penulis deskripsikan berkaitan dengan pemikiran dan kritik Paul Feyerabend. Dari uraian tersebut diatas maka dapat disimpulkan bahwa pemikiran kritis Feyerabend ini pada dasarnya merupakan reaksi atas kecenderungan absolutisme dari kaum Neo-positivisme terutama yang beraliran Empirisme Radikal (Naif) yang menganggap bahwa satu-satunya ukuran untuk menentukan ilmiah tidaknya suatu pengetahuan adalah dengan melalui proses induksi yang didasarkan pada data-data observasi, sedemikian rupa sehingga mereka berpandangan bahwa hanya ilmu pengetahuan alam saja yang sah dan unggul dibanding dengan bentuk-bentuk pengetahuan yang lain.





Dialog Antar Ilmu

5 02 2008

1. Pendahuluan

Sebagaimana diketahui ilmu pengetahuan sebenarnya merupakan proses kesadaran manusia yang memiliki karakter tersendiri. Dikatakan memiliki karakteristik yang berbeda dengan jenis pengetahuan yang lain, oleh karena proses kesadaran ini yang semula berjalan secara spontan dan langsung tiba-tiba menggumpal dalam pusaran reflektif, sedemikian rupa sehingga serpihan-serpihan data sensorial yang semula berserakan (raw data) tanpa struktur tiba-tiba tersusun menjadi ornamen pengetahuan yang sistematis dan teruji. [1] Tentu saja bila kita kaji lebih dalam lagi, proses sistematisasi ini melibatkan aparat kognisi terutama untuk menguatur arus penalaran logis. Sedemikian rupa sehingga data-data empiris yang memperoleh status premis-premis akan dimasukkan ke gerbong proposisi-proposisi untuk selanjutnya diantarkan menuju ke terminal kesimpulan yang tepat dan benar. [2]

Dengan melalui perkembangan evolusitnya, ilmu pengetahuan kemudian berjalan menuju kutub-kutub diversifitas yang saling menjauh untuk kemudian menduduki orbit spesialisasi-spesialisasi yang bersifat parsial. Konfigurasi peta sains dan teknologi ini pada akhirnya terfragmentasi ke dalam kepingan-kepingan metodologis tersendiri. Tentu saja keadaan ini pada gilirannya akan membawa resiko terhadap wawasan dan cakrawala pandang manusia, sedemikian rupa sehingga implikasi logisnya akan menciptakan potret eksistensi manusia yang teralienasikan.

Dari sisi lain, sains dan teknologi yang semula dimaksudkan untuk melayani kebutuhan manusia, malah justru sebaliknya memperbudak manusia sendiri. Mula-mula dengan ilmu pengetahuan teknologi, manusia hendak menguasai alam dan sampai batas-batas tertentu ia berhasil, tetapi ia lupa bahwa ia sendiri adalah bagian dari alam dan turut terkuasai oleh ilmu pengetahuan. Teknologi berkembang sendiri dan makin terpisah dari serta jauh meninggalkan agama dan etika, hukum, ilmu-ilmu sosial dan humaniora. Manusia makin dilihat terfragmentasi, dan mesin makin dominan dalam kehidupan manusia. Berbagai macam problem timbul dalam berbagai bidang, misalnya ekonomi, ekologi, energi, kesehatan, persenjataan, kekerasan, pengangguran dan lain-lain. [3]  Oleh karenanya wajar jika ketegangan global terutama terjadinya technostress, technoanxiety dan lain sebagainya secara tidak langsung bersumber pada implikasi dan aplikasi wawasan keilmuan yang bersifat parsial dan segmentaristik ini. Kenyataan ini pada gilirannya tanpa disadari telah memisahkan misi suci keilmuan dari benua humanitas. Oleh karena itu menjadi cukup urgens jika dialog antar ilmu segera diselenggarakan.

Selaras dengan upaya dialog antar ilmu tersebut, maka makalah ini mencoba mengkaji, sejauh mana kemungkinan terjadinya dialog tersebut?, jika mungkin, bagaimana bentuk dialog tersebut terjadi?, serta bagaimana implikasi dialog tersebut terutama bagi wawasan keilmuan Islam?.

2. Kemungkinan-Kemungkinan Menuju Dialog

Sebagaimana telah dikemukakan di atas bahwa dialog antar ilmu menjadi agenda jaman yang paling urgens untuk segera diselenggarakan. Hal ini tentunya terkait dengan kenyataan yang ada dewasa ini, dimana dengan semakin maraknya perkembangan sains dan teknologi nilai-nilai humanitas secara ironis kehilangan signifikansinya. Lalu ilmu pengetahuan yang begitu pesat akan meninggalkan teknologi lunak jauh di belakang teknologi keras. Perkembangan peralatan, perkakas instrumen, arsifak dan informasi per kapita begitu cepat, sehingga hukum, etika, agama dan kebijakan politik akan ketinggalan, demikian pula adaptasi prilaku manusia. Sesuatu yang baru ditemukan dalam laboratorium atau baru diumumkan dalam forum ilmiahdengan segera dapat diterapkan dalam masyarakat. Lolos dari laboratorium dapat berakibat lepas dari kendali para ilmuwan sendiri, padahal etika, hukum dan kebijakan umum belum siap mengendalikannya. Hal ini yang menggelisahkan para ahli yang sempat merenungkan evolusi ilmu di masa yang akan datang.

Lepasnya teknologi dari laboratorium juga dapat mendehumanisasi manusia. Teknologi makin terpusat dan dalam skala besar, sehingga konsumen tidak banyak lagi pengaruhnya terhadap proses produksi atau produsen. Makin maju ilmu pengetahuan, makin terspesialisasi, dan tiap-tiap spesialisasi hanya mengenal dirinya sendiri semakin mendalam, tetapi tidak banyak  mengetahui tentang hal-hal yang lain diluarnya. Hal ini memfragmentasi manusia dan kehidupannya. Ilmu pengetahuan dan teknologi juga dapat mengganti kedudukan manusia sebagai pekerja dan individu yang utuh, karena pekerjaan rutin akan dikerjakan oleh mesin dengan lebih teliti, lebih cepat dan lebih berani. Ilmu pengetahuan dan teknologi dapat mempunyai akibat sampingan yang tidak terduga dan membahayakan, misalnya pencemaran, kerusakan lingkungan, termasuk angkasa, karena intervensi dan eksploitasi yang disengaja terhadap lingkungan yang berulang-ulang dan secara besar-besaran.

Kenyataan inilah yang membuat dialog antar ilmu menjadi mendesak untuk diselenggarakan. Meskipun demikian, tentunya agenda ini memerlukan landasan yang memberikan kemungkinan bagi diadakannya dialog tersebut. Sedemikian rupa sehingga landasan asumsi ini dapat memberikan kejelasan bagi pola operasionalisasi dialog tersebut. Adapun landasan asumtif termaksud tentunya harus berangkat dari sistem keilmuan itu sendiri, yang pada dasarnya dapat dikembalikan pada tiga komponennya, yakni landasan ontologis, epistemologis dan aksiologis. [4]

Landasan ontologis berkaitan dengan materi yang menjadi obyek penelaah ilmu. Berdasarkan obyek yang telah ditelaahnya, ilmu dapat disebut sebagai pengetahuan empiris. Karena obyeknya adalah sesuatu yang berada dalam jangkauan pengalaman manusia yang mencakup seluruh aspek kehidupan yang dapat diuji oleh pancaindera manusia. Adapun relevansinya bagi kemungkinan untuk dapat diadakan dialog antar ilmu dapat dikatakan bahwa meskipun ilmu berlainan dengan bentuk-bentuk pengetahuan lainnya, tampaknya masih terikat oleh landasan asumtif ontologis bahwa diseberang kesadaran diri manusia terdapat realitas empirik yang terbentang tanpa tergantung pada subyektifitasnya. Asumsi ini biasanya dijadikan postulasi guna memberi landasan ontologis keilmuan, bahwa: (1) Dunia itu ada, dan kita dapat mengetahui bahwa dunia itu benar ada. Dalam ilmu pengetahuan asumsi ini berarti bahwa adanya “dunia empiris” diterima begitu saja secara apriori.  Setelah ilmu menerima kebenaran eksistensi dunia empiris ini, barulah ilmu mengajukan pertanyaan-pertanyaan lebih lanjut, seperti misalnya: “Bagaimanakah dunia empiris alam dan sosial itu tersusun?”, dan lain-lain. (2) Dunia empiris itu dapat diketahui oleh manusia melalui pancaindera.  Dalam ilmu pengetahuan satu-satunya jalan untuk mendapatkan pengetahuan adalah melalui pancaindera atau mungkin alat-alat ekstension lainnya sebagai gantinya. (3) Fenomena-fenomena yang terdapat di dunia ini berhubungan satu sama lain secara kausal. Berdasarkan atas postulat bahwa fenomena-fenomena di dunia ini saling berhubungan secara kausal, maka ilmu pengetahuan mencoba untuk mencari dan menemukan sistem, struktur, organisasi, pola-pola dan kaidah-kaidah dibelakang fenomena-fenomena itu, dengan jalan menggunakan metode ilmiahnya. [5]

Landasan epistemologis, berkaitan dengan masalah proses yang terlibat dalam usaha untuk memperoleh pengetahuan. Proses ini biasanya disebut sebagai metode ilmiah.Yakni, suatu proses yang mencakup berbagai tindakan pikiran, pola kerja, cara teknis dan tata langkah untuk memperoleh pengetahuan baru atau mengembangkan pengetahuan yang telah ada. Dalam relevansinya terhadap kemungkinan dialog antar ilmu, dapat dikatakan bahwa meskipun setiap disiplin ilmu pengetahuan memiliki obyek kajian yang berbeda satu dengan lainnya (obyek materialnya) dan bahkan mungkin memiliki spesifikasi penekanan metodis yang berbeda (obyek formalnya). Namun mereka tidak dapat dilepaskan dari prosedur ilmiah yang bersifat umum, yakni: penentuan masalah, perumusan dugaan sementara, pengumpulan data, perumusan kesimpulan dan verifikasi hasil. [6]

Adapun landasan aksiologis berkaitan dengan manfaat yang diperoleh manusia dari pengetahuan yang didapatkannya. Ketika ilmu pengetahuan mulai diterapkan ke dalam lingkungan biome khususnya kebudayaan manusia, maka ilmu tidak lagi bersifat netral. Memang persoalan apakah ilmu pengetahuan itu bebas nilai atau sebaliknya  bermuatan nilai masih diperdebatkan. Bagi ilmuwan yang mengatakan bahwa ilmu pengetahuan pada dasarnya bebas nilai, ia menyandarkan pertimbangan nilai hanya pada nilai kebenaran dan mengesampingkan pertimbangan-pertimbangan nilai metafisika lainnya, seperti nilai etik, kesusilaan, dan kegunaannya akan sampai pada prinsip bahwa ilmu pengetahuan harus bebas nilai. [7] Sementara pada ilmuwan yang mengatakan bahwa ilmu pengetahuan pada dasarnya tidak bebas nilai, berargumentasi bahwa para ilmuwan yang mengembangkan ilmu pengetahuan adalah produk dari suatu kebudayaan tertentu yang tidak bisa dielakkan. Dalam mengembangkan dan menerapkan ilmu pengetahuan tidak menutup kemungkinan para ilmuwan dipengaruhi oleh gaya pikir (thought style) yang berlaku umum pada zamannya dan diwilayahnya. Dalam mengamati dengan obyektif sesuatu dalam lingkungan terjadi hubungan atau interaksi tertentu antara pengamat dan obyek, yang membuat pengamatan itu menjadi subyektif. Dengan singkat, observasi bermuatan budaya, dan budaya berevolusi bersama dengan manusia pendukungnya. Observasi terjadi dalam matrik kultural, dalam anyaman keyakinan dan persangkaan. [8] Adapun relevansi terhadap kemungkinan diadakan dialog antar ilmu, maka dapat dikatakan landasan ini memiliki asumsi yang kuat sekali bahwa bagaimanapun ilmu pengetahuan dikembangkan oleh manusia yang memiliki karsa, rasa dan cipta yang segala keputusannya pasti bermuatan nilai, sedemikian juga penerapan ilmu pengetahuan pun demi untuk memenuhi tuntutan hidup dan kehidupan manusia itu sendiri yang dalam segenap ekspresi hidup dan kehidupannya senantiasa terlandasi oleh tata nilai.

3. Bentuk Dialog Antar Ilmu

Dengan memperhatikan kemungkinan-kemungkinan yang melandasi bagi berlangsungnya dialog antar ilmu tersebut diatas, maka bentuk dialog tersebut barangkali dapat bermuara pada: pertama, pada dataran epistemologis ; dan kedua, pada dataran aksiologis. Pada dataran epistemologis, bentuk operasionalitas dialog tersebut dapat berupa penggunaan pendekatan metodis yang bersifat interdisipliner terhadap suatu obyek kajian. Dalam kajian yang bersifat interdisipliner ini, maka masing-masing pendekatan dikoordinasikan dalam sektor suplementer. Sehingga dengan kajian yang bersifat koordinatif ini pengethuan kita terhadap obyek kajian menjadi lebih exhaustive dan comprehensive. Kajian dengan pendekatan multidisipliner ini untuk menghindari dominasi memtodis dari salah satu disiplin ilmu tertentu, sehingga keberadaan ilmu yang lain diabaikan. Menerima superioritas ilmu atas bentuk-bentuk pengetahuan lainnya berarti membenarkan perbudakan terselubung. Hal inilah yang ditentang keras oleh  Paul Feyerabend dalam konsepnya tentang anarkhisme metodis.  Bahwa ilmu pengetahuan bukanlah satu-satunya bentuk pengetahuan yang paling unggul dibanding dengan bentuk-bentuk lainnya. Seperti halnya Thomas Kuhn, maka Feyerabend pun mendasarkan sikapnya kepada argumentasi bahwa ilmu-ilmu atau teori-teori tidak bisa saling diukur dengan standar yang sama. [9] Kajian yang bersifat multidisipliner ini tentunya juga menjamin validitas dan reliabilitas suatu teori lebih mantap. Inilah yang dimaksudkan oleh Imre Lakatos dalam program risetnya. Yang harus dinilai sebagai ilmiah atau tidak ilmiah bukanlah teori tunggal, tetapi rangkaian teori-teori. Rangkaian teori-teori  ini sendiri satu sama lain dihubungkan oleh suatu kontinuitas yang menyatukan teori tersebut menjadi program-program riset. [10]

Pada dataran aksiologis bentuk operasionalitas dialog antar ilmu ini tentunya berupa pengkaitan kembali strategi pemilihan teori[11] atau ilmu pengetahuan dengan pertimbangan-pertimbangan nilai, baik nilai intriksi yang terdapat inherent dengan tuntutan logika keilmuan, maupun nilai instrumental yang terkait dengan fakta humanitas dimana kajian keilmuan ini dilaksanakan. Pengkaitan antara pemilihan teori dengan pertimbangan nilai dengan sendirinya akan memiliki efek praksis bagi struktur budaya manusia. Sikap inilah yang sejak awal diupayaan oleh madzhab Frankfurt.

Meskipun upaya ini berangkat dari kritik mereka terhadap kecenderungan dominasi semangat positivisme dalam kajian keilmuan terutama ilmu-ilmu sosial. Namun implikasi metodis mereka memberikan penekanan bahwa ilmu pengetahuan harus mempertimbangkan nilai-nilai praksisnya. Teori tidak dapat dilepaskan dari praksis dan bahwa tidak ada ilmu pengetahuan yang bebas nilai. Atau menurut Habermas, sikap teoritis selalu diresapi dan dijuruskan oleh kepentingan manusiawi yang tertentu. [12] Hal senada juga diberikan oleh Herbert Mercuse dalam karyanya “One-Dimensional Man” , bahwa ilmu pengetahuan dan teknik harus diberi suatu arah lain atau suatu tujuan lain, yaitu the pacification of existence, dengan itu dimaksudkan Mercuse perdamaian dan kebebasan yang sejati. Tetapi hal itu mengandaikan bahwa rasio sendiri akan berfungsi secara lain. Rasio harus meninggalkan logika penguasaannya dan mulai memajukan seni hidup. [13]

4. Dialog Ilmu Pengetahuan (Sains) Dan Islam

Terdapat sejumlah permasalahan yang barangkali perlu untuk diketengahkan sehubungan dengan sikap para agamawan pada umumnya dan dalam hal ini Islam pada khususnya terhadap keberadaan sains dan teknologi. Permasalahan tersebut bermuara pada persoalan bahwa ilmu pengetahuan merupakan produk sekular yang dikembangkan (kebanyakan) oleh ilmuwan Barat yang berlatar belakang imperialisme tentunya memiliki implikasi-implikasi yang membahayakan umat beragama terutama Islam. Jika dipaksakan bahwa ilmu pengetahuan bukan merupakan produk sekular, maka bagaimanakah jika terjadi pertentangan antar keduanya?, Apakah keyakinan Islam secara menyeluruh sejalan dengan ilmu alam atau  apakah ada pertentangan yang tidak dapat didamaikan antara sistem metafisika yang berdasarkan iman dan kemampuan akal dengan sistema berdasarkan keingintahuan empiris?. Persoalan-persoalan inilah yang selalu menjadi renungan para filsuf dan teolog Islam sejak lebih dari seribu tahun yang lalu hingga dewasa ini. Persoalan ini terus bergema dan mengundang debat panjang serta perselisihan. Bahkan adu argumentasi antara para pembaharu, kaum modernis dan kaum muslim ortodoks tentang kesesuaian Islam dan sains ini, sudah hampir mencapai titik jenuh.

Untuk memulai upaya memahami perkembangan sains dalam format dialog antar ilmu ini, tentunya kita memerlukan pengertian dasar tentang kegiatan ilmiah    misalnya fislafat dan modus operandi sains, ketergantungan sains pada alam dan kualitas sistem pendidikan, kumpulan ide-ide dan nilai-nilai yang ditumbuhkannya, yang pada gilirannya merupakan hal utama jika disadari bahwa kebudayaan Islam sulit melepaskan diri dari ikatan masa silam. Karena itu, setiap analisis serius mengenai keadaan sains sekarang membutuhkan pemahaman yang dalam tentang bagaimana sains memasuki peradapan Islam dan tumbuh subur didalamnya selama hampir lima abad.

Sementara itu dialog antara sains dengan Islam dalam kenyataan kontemporer menjadi suatu keharusan yang mendesak untuk segera dilaksanakan. Tentu saja keharusan ini selain dilatarbelakangi oleh pengembangan produk ilmu pengetahuan guna mendukung pemahaman kita terhadap pesan-pesan wahyu Allah, juga tidak kalah pentingnya adalah kenyataan kebudayaan dan peradaban umat Islam sendiri yang masih memprihatinkan. Tentu saja dialog yang dikehendaki ini masih dalam batas-batas yang tidak merombak secara fundamental  kepribadian keislaman. Dengan demikian, dialog nanti tentunya bertujuan untuk lebih memperkaya wawasan pemahaman umat Islam sendiri terhadap pesan-pesan keagamaannya.

Adapun dialog yang terjadi antara ilmu pengetahuan (sains) dan Islam, yang selama ini telah dilaksanakan, yakni sejak pada abad IX , memiliki tiga kecenderungan sikap dan bentuk. Sikap dan bentuk restorasionis, rekonstruksionis, dan pragmatis. Sikap dan bentuk restorasionis mencoba memulihkan beberapa versi ideal di masa lampau, dan menyebutkan semua kegagalan dan kekalahan merupakan penyimpangan dari jalan yang lurus. Sikap ini menggemakan perang suci melawan gagasan sekular, rasionalisme dan universialisme. [14] Menurut sikap ini ilmu pengetahuan jelas terbatas; ilmu pengetahuan berisikan tentang apa saja yang telah diwahyukan. Karenanya, bagi sikap ini setiap perkembangan dalam ilmu pengetahuan berarti penemuan tafsiran baru mengenai kitab suci. Bahkan kelompok ini seringkali mengklaim bahwa setiap penemuan baru dalam sains modern telah lama ada antisipasinya dalam kitab suci. Sebaliknya bertentangan dengan sikap dan bentuk restorasionis adalah sikap rekonstruksionis. Sikap rekonstruksionis secara esensial menafsirkan kembali keimanan untuk mendamaikan tuntutan peradaban modern dengan ajaran dan tradisi Islam. Bentuk dan sikap kelompok ini menyatakan bahwa Islam selama periode kehidupan Rasulullah dan Khulafa al-Rasydin bersifat revolusioner, liberal dan rasional. Masa setelah itu condong pada kekakuan dan dogmatisme reaksioner yang terus melemah akibat dari keberhasilan taqlid (tradisi) atas ijtihad (inovasi). Sikap kelompok ini sangat responsif terhadap perkembangan sains dan teknologi yang ada. Dan bahkan mereka menyandarkan kepada optimisme yang berlebihan kepada kemajuan yang telah dicapai oleh Barat. Kaum Muslim akan hancur bila mereka tetap bertahan menolak peradaban dan pengetahuan sekular. Seorang ilmuwan yang secara konsisten menggunakan peralatan dan teknik-teknik sains modern, walaupun dia seorang penganut Islam yang taat, tak pelak lagi akan menghancurkan struktur agama Islam.

Sementara sikap metodis Ziauddin Sardar bersandar pada argumentasi bahwa pencaharian sains yang Islami adalah kewajiban paling mendesak yang dihadapi kaum muslim dewasa ini. Menurutnya, apa yang disebut sains Barat jelas tidak sesuai. Tidak saja karena penerapannya berbahaya tetapi juga karena epistemologisnya secara mendasar bertentangan dengan pandangan Islam. Sikap ini senada dengan yang dikemukakan oleh Ismail Faruqi, bahwa umat Islam harus menguasai semua disiplin keilmuan modern, memahami disiplin keilmuan tersebut dengan sempurna dan merasakan itu sebagai sebuah perintah yang tidak bisa ditawar-tawar bagi mereka semua. Itulah prasyarat yang utama. Setelah itu, mereka harus mengintegrasikan pengetahuan baru tersebut ke dalam keutuhan warisan Islam dengan melakukan eliminasi, perubahan, penafsiran kembali dan penyesuaian terhadap komponen-komponennya sebagai world views Islam dan menetapkan nilai-nilainya. [15]

Namun berbeda dengan al-Faruqi, yang menyarankan Islamisasi ilmu pengetahuan dengan menuntut kita untuk menetapkan hubungan khusus Islam dengan masing-masing ilmu pengetahuan modern. Ziauddin Sardar sebaliknya  menyatakan bahwa apa yang dikemukakan oleh al-Faruqi justru terbalik, bukan Islam yang mesti dijadikan relevan dengan pengetahuan modern tetapi justru pengetahuan modernlah yang mesti dijadikan relevan dengan agama Islam. [16]

5. Penutup

Demikianlah deskripsi singkat tentang dialog antar ilmu yang dapat direpresentasikan dalam forum ini. Tentu saja keseluruhan uraian di muka tersebut terasa belum cukup memadai untuk memberikan pemahaman kita secara komprehensif tentang detail-detail dialog termaksud. Hal ini perlu dimaklumi lebih awal, karena dialog ini memiliki dimensi yang sangat dalam dan luas sekali. Sehingga upaya untuk meringkasnya seperti dalam makalah ini terkesan karikaturistik sekali.

  

——— Sekian ———-

  DAFTAR KEPUSTAAN   Anshari, Endang Saifuddin.Ilmu, Filsafat, dan Agama. Surabaya: PT. Bina Ilmu Surabaya,1983Bertens, Kees. Filsafat Barat Abad XX (Inggris-Jerman).Jakarta: PT. Gramedia,1983.Chalmers, A.F.Apa Itu Yang Dinamakan Ilmu,Terj. Hasta Mitra .Jakarta: Hasta Mitra,1983.Hoodboy, Pervez. Ikhtiar Menegakkan Rasionalitas, Antara Sains Dan Ortodoksi Islam, terj. Sari Meutia. Bandung: Mizan,1996.

Jacob, T.Manusia, Ilmu dan Teknologi .Yogyakarta: PT. Tiara Wacana Yogya,1988.

Liang Gie, The. Konsepsi Tentang Teknologi .Yogyakarta: Yayasan Studi Ilmu Dan Teknologi,1984.

Suriasumantri, Jujun S. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Penerbit Sinar Harapan,1996. Tim Dosen Filsafat Ilmu UGM, Filsafat Ilmu .Yogyakarta: Penerbit Liberty Yogyakarta, 1996.Verhaak, C. dan Imam, R. Haryono.Filsafat Ilmu Pengetahuan (Telaah Atas Cara Kerja Ilmu-Ilmu). Jakarta: PT.Gramedia Pustaka Utama,1995


[1] C. Verhaak dan R. Haryono Imam,Filsafat Ilmu Pengetahuan (Telaah Atas Cara Kerja Ilmu-Ilmu), (Jakarta: PT.Gramedia Pustaka Utama,1995),18.

[2]  Tim Dosen Filsafat Ilmu UGM, Filsafat Ilmu, (Yogyakarta: Penerbit Liberty Yogyakarta, 1996),103.

[3] Prof. Dr.T. Jacob,Manusia, Ilmu dan Teknologi, (Yogyakarta: PT. Tiara Wacana Yogya,1988),35.

[4] Sekedar meminjam istilah dari Jujun Suriasumantri untuk kepentingan analisis. Lihat : Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, (Jakarta: Penerbit Sinar Harapan,1996)

[5] Endang Saifuddin Anshari,MA, Ilmu, Filsafat, dan Agama, (Surabaya: PT. Bina Ilmu Surabaya,1983),65.

[6]  Tim Dosen Filsafat UGM, Filsafat,104.

[7] The Liang Gie,Konsepsi Tentang Teknologi, (Yogyakarta: Yayasan Studi Ilmu Dan Teknologi,1984),21.

[8] Jacob, Manusia,8-9.

[9] A.F. Chalmers,Apa Itu Yang Dinamakan Ilmu,Terj. Hasta Mitra (Jakarta: Hasta Mitra,1983),145.

[10] Verhaak & Haryono, Pengantar Filsafat, 168.

[11] Menurut Paul Feyerabend, pemilihan ini harus berdasarkan kebebasan individual manusia. Dalam menjalankan riset dan mengambil keputusan-keputusan sebaliknya ilmuwan tidak dibatasi meski barangkali memang dibimbing oleh metode-metode yang ada. Ia harus bebas. Lihat, Ibid, 166.

[12]  Kees Bertens, Filsafat Barat Abad XX (Inggris-Jerman),(Jakarta: PT. Gramedia, 1983),222.

[13] Ibid,211.

[14] Pervez Hoodboy,Ikhtiar Menegakkan Rasionalitas, Antara Sains Dan Ortodoksi Islam, terj. Sari Meutia (Bandung: Mizan,1996).100.

[15] Isma’il Raji al-Faruqi,Islamisasi Pengetahuan,terj.Anas Mahyuddin (Bandung: Penerbit Pustaka,1984),34-35.

[16] Hoodboy, Ikhtiar,136.

   








Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.