Anarkhisme metode

6 02 2008

picture-011.jpg

1. Pendahuluan
Makalah ini lebih dimaksudkan sebagai studi pengantar untuk memahami konstelasi perkembangan filsafat ilmu pada umumnya dan pemikiran yang cemerlang dari Paul Feyerabend pada khususnya. Oleh karena bersifat pengantar, maka didalamnya hanya berisi deskripsi informatif. Bahan-bahan disajikan dalam ketelanjangan yang bersahaja tanpa sentuhan kritik analisis. Ini dimaksudkan agar pembaca segera mencerna inti pemikiran dari Paul Feyerabend tanpa disibukkan untuk memilah uraian-uraian yang bersifat analisis. Meskipun demikian bukan berarti deskripsi ini segera mudah untuk dipahami. Oleh karenanya membacanya dengan tenang dan dingin lebih diharapkan oleh penulis agar detail-detail pemikiran Feyerabend selaku eksponen kontemporer tidak terabaikan sedikitpun.

2. Situasi Keilmuan Dewasa Ini
Sebagaimana dimaklumi bahwa bagaimanapun prestasi yang telah diraih ilmu sebagai aktifitas, produk dan metode   telah membawa kemajuan yang sedemikian signifikan dalam perkembangan kebudayaan dan peradaban manusia. Prestasi ini tentu saja selain ditentukan manfaat yang telah diberikan juga lebih disebabkan oleh peran yang dimainkannya dalam proses pendewasaan dan pencerahan kesadaran manusia.   Hal ini cukup beralasan jika dipertimbangkan bahwa ternyata dengan perangkatnya yang khas ilmu telah menunjukkan efisiensi dan efektifitasnya selaku instrumen unguk memenuhi kebutuhan kuriositas manusia baik sebagai alat eksplanasi, kontrol, dan prediksi.  Bila lebih jauh lagi diusut, maka efisiensi dan efektifitas ilmu sebenarnya terletak pada perangkat metodologisnya, yakni metode ilmiah.
Dengan fungsinya sebagai eksplanator, prediktor dan controler, ilmu dengan seperangkat prosedur dan metode ilmiahnya ini dalam perkembangannya pernah dijadikan sebagai satu-satunya standar utama dalam menentukan validitas dan reliabilitas kebenaran. Walhasil, kenyataan ini telah menyeret pandangan ekstrem tertentu terhadap keberadaan ilmu. Neo-positivisme, misalnya telah sampai pada anggapan bahwa sesuatu yang hanya dapat diuji melalui prosedur dan metode ilmiah sajalah yang memiliki status benar dan bermakna, selainnya adalah khayalan dan ilusi. Kelompok ini terutama bersandar pada pengamatan (observasi) dan eksprimentasi. Dengan kata lain, selain yang berdasar pengamatan tidak ada pengetahuan yang dianggap wajar dan ada-tidaknya pengamatan itu tergantung pada dapat-tidaknya ia dibenarkan, yaitu diperiksa secara empiris. Kedua ukuran inilah yang dinamakan prinsip verifikasi (the principle of verifiability).  
Tentu saja banyak persoalan yang timbul dalam kaitannya dengan prinsip verifikasi ini, terutama bila ditinjau dari sudut validitas dan reliabilitas kebenaran yang dicapai melalui observasi dan eksprimentasi. Misalnya, persoalan tentang kapan hasil pengamatan (observasi) itu terpercaya?; bagaimana menetapkan asas kebenarannya?; serta kapankah sejumlah pengamatan itu cukup diteliti agar pernyataan umum dapat dipercayai mengenai hal berlakunya secara pasti?, dan lain sebagainya. Keseluruhan persoalan inilah yang akhir-akhir ini mendapat kritik yang sedemikian tajam dari para filsuf keilmuan modern.
Pada dasarnya kritik yang dialamatkan kepada persoalan metode ilmiah ini pada umumnya dan ukuran kebenaran (kebermaknaan) suatu teori yang dipergunakan oleh kaum Neo-positivisme pada khususnya dapat dipilah ke dalam dua perspektif, yakni perspektif filosofis-metodologis dan perspektif historis.   Dalam perspektif filosofis-metodologis, para filsuf berusaha mempertanyakan persoalan yang berkaitan dengan dasar-dasar ilmu pengetahuan dan langkah-langkah prosedur ilmiah yang berlaku. Dalam hal ini misalnya dipertanyakan apakah sebenarnya yang dinamakan “konsep” , “pengamatan” (observasi), “teori”, “asumsi” dan lain sebagainya, demikian juga dipertanyakan apakah benar (tepat) prosedur serta operasi logika yang dipergunakan untuk menarik kesimpulan-kesimpulan teori ilmiah?. Dalam persoalan ini  –  untuk tidak bermaksud menampilkan seluruh contoh yang ada  –  sejumlah alternatif solusi dapat diketengahkan, misalnya: prinsip falsifikasi dari Karl Popper, program riset-nya Imre Lakatos, dan perbedaan standar keilmuan-nya Feyerabend dan lain sebagainya.  
Sementara dari perspektif historis, para filsuf keilmuan berusaha mempertanyakan persoalan yang berkaitan dengan perkembangan yang terjadi dalam sejarah ilmu dan  peranan sejarah ilmu dalam upaya mendapatkan serta mengkonstruksi wajah ilmu pengetahuan dan kegiatan ilmiah yang sesungguhnya terjadi.   Kritik yang berkaitan dengan masalah ini misalnya dilakukan oleh Thomas Kuhn, Michel Foucault, Jacques Derrida dan lain-lain.
Erat kaitannya dengan kritik yang dilontarkan oleh para filsuf keilmuan kontemporer tersebut diatas. Maka kritik yang dilakukan oleh Paul Feyerabend terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dewasa ini dinilai paling aktual dan memiliki relevansi yang cukup serius terutama bagi perkembangan peradaban dan kebudayaan manusia. Pemikiran dan kritik epistemologis Paul Feyerabend ini terutama dapat ditemukan pada dua buah karyanya yang cukup spektakuler yakni: “Againts Method : Outline of an Anarchistic Theory of Knowledge” dan sebuah makalah yang diberi judul “Philosophy of Science: A Subject With a Great Past”. Di dalam kedua karyanya tersebut, Feyerabend memaparkan seluruh kritiknya terhadap perkembangan ilmu pengetahuan terutama menyangkut aspek metodologis dan implementasi praktis-akademiknya. Kritik tersebut bila dikristalisasikan akan menjadi empat items, yakni: Apa Saja Boleh (Anything Goes), Ilmu-Ilmu Tidak Bisa Saling Diukur Dengan Standar Yang Sama, Ilmu Tidak Harus Mengungguli Bidang-Bidang Yang Lain,  dan Kebebasan Individu. Dalam makalah ini akan diuraikan secara agak singkat tentang bagaimana kritik yang dilancarkan oleh Feyerabend tersebut.

3. Apa Saja Boleh
Dalam kritiknya ini pada dasarnya Feyerabend ingin mendobrak anggapan bahwa ada keteraturan dalam perkembangan ilmu yang kemudian keteraturan itu diwujudkan dalam hukum dan sistem. Pendobrakkan ini dapat dimengerti jika kita mengingat betapa kompleksnya situasi realistik dalam ilmu pengetahuan. Maka tidak mungkin mengandalkan ilmu pengetahuan itu pada suatu metodologi atau hukum tertentu.   Dengan demikian menurutnya, ide ilmu dapat dan harus berjalan dengan hukum-hukum universal yang mapan adalah  tidak realistik dan juga merusak. Tidak realistik karena ia selalu menyederhanakan bakat manusia dan keadaan lingkungan yang mendorong atau menyebabkan perkembangan dan ia merusak karena berusaha untuk memberlakukan hukum-hukum itu cenderung meningkatkan kualifikasi profesional kita dengan mengorbankan kemanusiaan. Selain itu ide itupun merugikan ilmu sendiri karena ia mengabaikan perubahan ilmiah. Ia membuat ilmu makin kurang dapat dikelola dan makin dogmatik.  
Konsekuensi dari kritiknya tersebut, ia lalu mengemukakan bahwa semua metodologi mempunyai keterbatasannya dan satu-satunya hukum yang survive adalah “apa saja boleh” (anything goes). Menurut prinsipnya ini seorang ilmuwan tidak bisa didikte dalam situasi tertentu mendahulukan teori A dari teori B, atau harus menerima teori yang mendapatkan paling banyak.dukungan induktif dari fakta-fakta yang diterima dengan baik dan harus menolak teori yang tidak sesuai dengan fakta-fakta yang sudah diterima umum. Kebebasan seorang llmuwan dalam menentukan pilihan dan mengambil suatu keputusan harus ditegakkan, sebab keterikatannya kepada metodologi tertentu hanya akan menimbulkan kemandegan dan menghambat dinamika ilmu pengetahuan itu sendiri. Padahal tidak sesederhana itu situasi realistik yang dihadapi, dan setiap metodologi itu mempunyai keterbatasan-keterbatasan dan tidak akan pernah sempurna selamanya.
Tentu saja prinsip “apa saja boleh” yang diintrodusir oleh Feyerabend ini tidak harus diinterpretasikan dalam pengertian yang luas. Prinsip ini hanya memiliki relevansinya dengan masalah metodologi semata. Menurutnya, tidaklah bijaksana bagi para ilmuwan di dalam melakukan pilihan-pilihan dan keputusan terikat oleh hukum-hukum yang diatur atau terkandung di dalam metodologi ilmu. Dengan demikian para ilmuwan tidak harus terikat oleh hukum-hukum metodologi atau teori-teori tertentu.

4. Kebebasan Individu
Kritik tentang kebebasan individu ini sangat terkait dengan kritiknya tentang “apa saja boleh”. Menurutnya, kita harus membebaskan masyarakat dari kungkungan ilmu yang membatu secara ideologis, persis seperti nenek moyang kita membebaskan kita dari kungkungan “agama satu-satunya yang benar”.   Tampaknya kritik ini berdasar pada konsepnya tentang masyarakat. Menurutnya dalam masyarakat dewasa ini ilmu pengetahuan menduduki posisi yang sama dengan posisi agama pada abad Pertengahan. Ilmu pengetahuan mempunyai otoritas mutlak. Kendati dalam masyarakat seseorang boleh memilih agama  –  bahkan dalam  –  lingkungan masyarakat tertentu orang boleh memilih beragama ataua tidak beragama, ia tetap tidak bisa memilih mau mempelajari ilmu pengetahuan atau tidak. Yang ada hanyalah satu kemungkinan yaitu mau tidak mau ia harus mempelajari ilmu pengetahuan. Dengan kata lain, lmu pengetahuan tidak lagi berfungsi membebaskan manusia, namun justru menguasai dan memperbudak manusia. Pandangan ini amat jelas dalam artikel “How to Defend Society Againts Science”.
Berangkat dari konsepnya itu kemudian Feyerabend sangat menekankan kebebasan individu. Ia mendukung kebebasan manusia sebagaimana diperjuangkan oleh John Stuart Mill dalam karyanya “On Liberty”. Dengan mendukung kebebasan individu ini pandangan anarkhistiknya tentang ilmu terdukung juga, karena di dalam ilmu ia meningkatkan kebebasan individu dengan menyingkirkan segala bentuk kungkungan metodologis. Dengan demikian, menurutnya suatu masyarakat yang bebas tidak memberikan preferensi terhadap suatu ilmu diatas bentuk-bentuk pengetahuan lain, atau diatas tradisi-tradisi lain. Setiap orang harus mampu mengambil keputusan sendiri dan menetapkan apa yang paling cocok baginya. Dengan cara demikian setiap individu mempunyai informasi yang diperlukan untuk mengambil keputusan bebas.  

5. Ilmu-Ilmu Yang Tidak Bisa Saling Diukur Dengan Standar Yang Sama
Kritik tentang “ilmu-ilmu yang tidak bisa saling diukur dengan standar yang sama” ini berkaitan dengan aspek metodologis suatu pengetahuan ilmiah. Konsepnya ini bertumpu pada keadaan yang riel bahwa observasi pada kenyataannya sangat tergantung pada teori. Kritik ini dilontarkan sehubungan dengan sikap kaum Neo-positivisme terutama Empirisme Rasikal yang menekankan observasi sebagai ukuran bagi sah-tidaknya kualitas ilmiah.
Para ilmuwan yang beraliran Neo-positivisme terutama Empirisme Radikal, beranggapan bahwa ilmu harus bertolak dari observasi. Dan observasi ini kemudian memberikan dasar yang kukuh untuk membangun pengetahuan ilmiah diatasnya, sedangkan pengetahuan ilmiah disimpulkan dari keterangan observasi yang diperoleh melalui induksi. Dengan demikian ilmu dimulai dari fakta dan observasi. Observasi kemudian dirampatkan lewat induksi. Dengan cara ini hipotesa dapat disusun menjadi sumber penjabaran pernyataan baru: deduksi. Pernyataan ini kemudian diuji lagi terhadap fakta: verifikasi dan falsifikasi. Dengan demikian hipotesis (teori) yang telah disusun dinilai, yang mungkin disusun pernyataan baru berdasarkan teori itu, yang dapat mengakibatkan berlangsungnya pengamatan (penyelidikan baru). Dan tertutuplah lingkaran dari observasi ke observasi.   Dalam hal ini , Feyerabend tidak sependapat dengan kaum Neo-positivisme. Menurutnya, bukan observasi  yang menentukan teori, tetapi sebaliknya justru observasilah yang tergantung pada teori. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa apa yang terlihat oleh pengamat yakni pengalaman-pengalaman subyektif yang mereka alami tidak ditentukan semata-mata oleh gambar yang diterima oleh retina mereka, melainkan juga sangat tergantung pada pengalaman, pengetahuan, harapan-harapan dan keadaan umum bhatinnya.   Dengan demikian observasi sudah dibina oleh suatu rancangan teoritis dan teori itu secara terus-menerus dipengaruhi dan dikendalikan oleh observasi.
Selanjutnya keterangan observasi harus dibuat dalam bahasa teori, bagaimana pun samarnya. Sedemikian rupa sehingga keterangan observasi akan persis seperti kerangka teoritis atau konseptual yang mereka manfaatkan. Konsep “daya” sebagaimana dalam fisika adalah sesuatu yang sudah tertentukan, karena ia memiliki makna dari peran yang dimainkan di dalam teori tertenu, relatif otonom, yakni teori mekanika Newtonian. Menurut Feyerabend merumuskan keterangan observasu yang sama dalam suatu konteks teori yang berbeda. Makna dan interpretasi tentang konsep-konsep dan keterangan-keterangan observasi yang digunakan akan tergantung pada konteks teoritis dalam mana makna dan keterangan observasi itu muncul.    Dengan begitu, ia mau menentang anggapan yang memisahkan observasi dari teori. Di dalam beberapa kasus prinsip-prinsip fundamental dari dua teori rival mungkin berbeda sedemikian radikal. Sehingga tidak mungkin merumuskan konsep dasar dari teori yang satu deng standar teori yang lain. Dengan demikian tidaklah mungkin untuk saling membandingkan teori-teori rival tersebut secara logis.   Salah satu contoh yang diberikan oleh Feyerabend adalah tentang hubungan antara mekanika klasik dengan teori relativitas. Diinterpretasikan secara realistis. Menurut mekanika klasik yang mau melukiskan bagaimana dunia ini sebenarnya, baik yang dapat diobservasi  maupun tidak dapat diobservasi, merupakan obyek-obyek  fisik yang mempunyai bentuk, massa dan volume. Sifat-sifat  itu eksis di dalam obyek-obyek fisik dan dapat dirubah sebagai akibat suatu campur tangan fisik. Di dalam teori relativitas , diinterpretas secara realistis sifat-sifat seperti bentuk, massa dan volume yang tidak eksis lagi, tetapi menjadi relasi-relasi antar obyek. Ia menjadi kerangka referensi dan bisa dirubah tanpa interaksi fisik apa pun dengan mengganti  kerangka referensi  dari satu  ke yang lainnya. Sebagai akibatnya, keterangan apa pun mengenai obyek-obyek fisik di dalam mekanika klasik akan mempunyai makna berbeda dari keterangan observasi serupa di dalam teori relativitas. Dua teori itu tidak bisa saling diukur dan tidak dapat diukur dengan membandingkan konsekuensi-konsekuensi logis mereka.  
Meskipun demikian, menurut Feyerabend bukan berarti sepasang teori rival tidak bisa saling diukur dan diperbandingkan dengan cara apa pun. Salah satu cara untuk memperbandingkan sepasang teori rival adalah dengan mengkonfrontasikan mereka masing-masing pada serangkaian situasi yang dapat diobservasi, lalu kita catat seberapa jauh derajat masing-maing teori itu bisa sejalan dalam situasi-situasi tadi diinterpretasi sejauh kondisi masing-masing. Cara lain adalah dengan melibatkan pertimbangan-pertimbangan apakah mereka itu linear atau non-linear, koheren atau inkoheren. 

6. Ilmu Tidak Harus Mengungguli Bidang-Bidang Lain
Kritik selanjutnya yang dilancarkan oleh Feyerabend adalah hubungan antara ilmu dengan bentuk-bentuk pengetahuan lain. Ia mengemukakan bahwa banyak kau metodologis sudah menganggap benar, tanpa argumentasi bahwa ilmu (atau, mungkin fisika) membentuk paradigma rasionalitas. Hal ini mengakibatkan bahwa pembela-pembela  ilmu secara tipikal menilai ilmu adalah superior atas bentuk-bentuk pengetahuan yang lain. Berangkat dari kenyataan inilah kemudian Feyerabend merumuskan kritiknya bahwa ilmu tidak harus mengungguli bidang atau pengetahuan yang lain. Kritik ini bukan merupakan advokasi yang diberikan agar para saintis bersikap adil dan tidak menganggap bahwa ilmu yang digelutinya lebih superior dibanding dengan bidang atau pengetahuan yang lain. Apalagi  menganggap bahwa metode ilmiah yang ketat dengan prosedur logika sebaga ukuran standar untuk menentukan validitas dan reliabilitas pengetahuan apa pun. Tetapi kritik ini berangkat dari implikasi logis dari konsepnya tentang ilmu-ilmu yang tidak bisa saling diukur dengan standar yang sama.
Sebagaimana dikemukakan diatas bahwa pada kenyataannya setipa ilmu tentunya memiliki dasar dan kerangka teoritis yang berbeda satu dengan lain, sehingga dari sini tidaklah mungkin untuk dapat merumuskan suatu konsep dasar  yang sama dari konteks teoritis yang berbeda. Meskipun demikian pernyataannya ini bukan dimaksudkan untuk menempatkan posisi ilmu lebih tinggi dari bidang atau pengetahuan yang lain. Paul Feyerabend sangat menolak ide bahwa akan bisa lahir suatu argumen menentukan yang menguntungkan ilmu atas bentuk-bentuk pengetahuan lain yang saling tidak bisa saling diukur.   Apabila ilmu hendak diperbandingkan dengan bentuk-bentuk pengetahuan yang lain, maka diperlukan menyelidiki watak, tujuan yang lain. Dengan demikian, pengetahuan lain tidak bisa hanya sekedar mengasumsikan tanpa penelitian lebih jauh bahwa suatu bentuk pengetahuan yang sedang diteliti itu harus sesuai dengan hukum-hukum logika sebagaimana biasa dipahami oleh para filsuf dan rasionalisme kontemporer. Kegagalan untuk menyesuaikan tuntutan logika klasik boleh jadi ada, tetapi harus dianggap sebagai kesalahan. Sebagai contoh dalam wilayah keilmuan sendiri pun kadangkala sulit diperbandingkan antara yang satu dengan yang lainnya, yakni ilmu pengetahuan alam (Naturwissenschaften) dengan ilmu pengetahuan budaya (Geistewissenschaften). Menurut Wilhelm Dilthey ilmu pengetahuan budaya mempunyai suatu metode tersendiri, yang tidak dapat diasalkan dari metode ilmu pengetahuan alam.  Yang khusus bagi ilmu pengetahuan budaya ialah bahwa dalam ilmu pengetahuan itu dipraktekkan apa yang disebutnya verstehen (mengerti), sedangkan ilmu pengetahuan alam berdasarkan erklaren (menjelaskan). Erklaren berarti menjelaskan suatu kejadian atas dasar penyebabnya atau dengan kata lain   –  atas dasar suatu hukum alam yang umum. Bertentangan dengan benda-benda alam, maka produk-produk manusiawi hanya bisa didekati dengan verstehen. Suatu karya seni, misalnya, dpat dimengerti dengan menempatkannya dalam jaman historisnya atau dalam kehidupan seniman bersangkutan. Verstehen ialah menemukan makna suatu produk manusiawi, yang hanya dapat dilakukan dengan menempatkannya dalam konteksnya. 

7. Kesimpulan
Demikian uraian singkat yang dapat penulis deskripsikan berkaitan dengan pemikiran dan kritik Paul Feyerabend. Dari uraian tersebut diatas maka dapat disimpulkan bahwa pemikiran kritis Feyerabend ini pada dasarnya merupakan reaksi atas kecenderungan absolutisme dari kaum Neo-positivisme terutama yang beraliran Empirisme Radikal (Naif) yang menganggap bahwa satu-satunya ukuran untuk menentukan ilmiah tidaknya suatu pengetahuan adalah dengan melalui proses induksi yang didasarkan pada data-data observasi, sedemikian rupa sehingga mereka berpandangan bahwa hanya ilmu pengetahuan alam saja yang sah dan unggul dibanding dengan bentuk-bentuk pengetahuan yang lain.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: