SEKILAS TENTANG JACQUES DERRIDA

1 03 2008

A. RIWAYAT HIDUP

JACQUES DERRIDA lahir pada tahun 1930 di El Biar, AI Jir, dan datang ke Prancis untuk melaksanakan tugas militernya, sambil bekerja di Ecole Normale di Paris bersama Hegel, Jean Hyppolite. Dia menghabiskan waktu satu tahun di Harvard untuk menyelesaikan kesarjanaannya, dari tahun 1956-1957. Dari tahun 1960-1964, Derrida mengajar di Sorbonne, dan sejak tahun 1965, Derrida mengajar sejarah filsafat di Ecole Normale Superieure.Setiap tahun Derrida mengajar juga untuk beberapa waktu sebagai dosen tamu di Yale University, Amerika serikat. Mada masa muda, Derrida pernah menjadi anggota Partai komunis Prancis.Sejak tahun 1974 Derrida ikut aktif dalam kegiatan­kegiatan himpunan dosen filsafat yang memperjuangkan tempat yang wajar untuk filsafat pada taraf sekolah menengah. Kelompok ini (Kelompok Penelitian Tentang Pengajaran Filsafat) didirikan ketika dalam rangka rencana pembaharuan pendidikan peranan filsafat pada sekolah menengah mulai dipersoalkan.Pada tahun 1962, Derrida memenangkan hadiah Prix Cavilles atas karya perdananya, dengan menerbtkan terjemahan karangan Husserl 7 Asal-Usul Ilmu Ukur. 

B. DEKONSTRUKSI

Proses kritik dari dalam, Derrida menyebutnya dengan istilah dekonstruksi” atau pembongkaran”. Pembongkaran itu menampakkan aneka ragam aturan yang   sebelumnya tersembunyi untuk menentukan teks. Satu hal yang dapat ditampakkan melalui proses pembongkaran yang mendapat perhatian khusus dalam filsafat Derrida adalah “yang tak dipikirkan” dan “yang tak terpikir”.Metode dekonstruksi Jacques Derrida tentang “yang tak dipikirkan” dan “yang tak terpikir” inilah yang kemudian membuat Derrida untuk melakukan kritik terhadap pemikiran para penganut metafisika. “Yang tak dipikirkan” atau “mustahil dipikirkan”, menurut Derrida, hal itu merupakan hal yang belum dapat dipikirkan oleh para penganut metafisika (mungkin teks­teks tersebut dianggab suci, jadi tidak berani untuk menyentuhnya). Sedangkan “yang tak terpikir”, maksudnya adalah hal-hal yang bisa dipikirkan kembali dari pemikiran filosofis penganut metafisika.  

C. PEMIKIRAN FILOSOFIS 

Pemikiran Derrida ditimbulkan dari ada sebagai “kehadiran” yang ditimbulkan oleh pemikiran Barat. Menurut Derrida pemikiran tersebut adalah metafisika. Kerangka pemikiran metafisika tentang “ada” sebagai “kehadiran” adalah hadir bukan berarti harus ada. Kehadiran yang timbul dari gejala atau tanda adalah sarana untuk menghadirkan yang ada. Dengan demikian, – dalam pandangan metafisika tanda yang akhirnya hanya sekedar pengganti sementara menunda hadirnya objek itu sendiri.Jacques Derrida melakukan dekonstruksi terhadap   pandangan bahwa tanda adalah sarana untuk menghadirkan. Menurut pandangan Derrida, bahwa kehadiran harus dimengerti  berdasarkan tanda. Dengan kata lain, tanda tidak bisa sebagai sarana untuk menghadirkan, kecuali bahwa tanda benar-benar mempunyai nilai bobot. Derrida menyebutkan tanda sebagai bekas, seandainya bekas (tanda) dihapus maka kehadiran akan ikut terhapus.Tanda oleh Derrida disebut “teks” atau “tenunan” diambil dari bahasa latin “texere”, arti menenun. Derrida menolak anggaban bahwa makna melebihi teks dan hadir bagi pemikiran terlepas dari teks. Artinya, terjemahan disamakan dengan menanggalkan pakaian dari makna tersebar dan mengenakan pakaian baru. Padahal, (menurut Derrida) menerjemahkan dari satu bahasa ke dalam bahasa yang lain tidak boleh dibayangkan sebagai melepaskan makna yang terbungkus dalam teks tersebut.Logologi didengung-dengungkan oleh filosofis barat, angkan logologi adalah ilmu tentang perkataan atau lisan. Menurut pandangan filosofis Barat bahwa bahasa lisan sebagai pemikiran sedangkan bahasa tulis merupakan tambahan bagi bahasa lisan. Bahasa lisan adalah pemikiran yang bersumber dari percakapan yang diadakan oleh jiwa atau hati nurani.Menurut Derrida, logologi melupakan dan bahkan meremehkan bahasa tulisan. Derrida mengadakan dekonstruksi atau pembongkaran terhadap logologi, dengan mengubah logologi menjadi gramatologi. Gramatologi berasal artinya “tanda dari tanda”, gramatologi gramma yang ar isebut juga ilmu tentang “tekstualitas.Kadang-kadang bahasa lisan membingungkan para pendengar. Kata-kata di dalam bahasa lisan di dalam pengucapannya sama tetapi di dalam pengartiannya berbeda. Dengan bahasa tulisan, “teks” (tanda) bersifat terbuka.Dengan perubahan (bahasa lisan ke dalam bahasa tulisan) tersebut mempunyai pengaruh  sangat luas terhadap perkembangan pemikiran manusia.Tetapi, Derrida tidak menghancurkan atau destruksi terhadap bahasa lisan. Maksud Jaqcues Derrida ialah bahwa setiap bahasa (bahasa tulis maupun bahasa lisan) menurut kodratnya adalah tulisan dari pemikiran. 


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: